Surah 45 · 45:22

Surah Al-Jathiyah 45:22

Al-Jathiyah · The Crouching

وَخَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسِۭ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Wakhalaqa Allahu assamawatiwal-arda bilhaqqi walitujzakullu nafsin bima kasabat wahum la yuthlamoon

And Allāh created the heavens and earth in truth and so that every soul may be recompensed for what it has earned, and they will not be wronged.

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.

SurahAl-Jathiyah
Juz25
Page500
Revelationmakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

The Life and the Death of the Believers and the Disbelievers are not Equal

Allah the Exalted states here that the believers and the disbelievers are never equal. Allah said in another Ayah,

لاَ يَسْتَوِى أَصْحَـبُ النَّارِ وَأَصْحَـبُ الْجَنَّةِ أَصْحَـبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَآئِزُونَ

(Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise. It is the dwellers of Paradise that will be successful.) (59:20) Allah said here,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُواْ السَّيِّئَـتِ

(Or do those who earn evil deeds think) those who commit and practice evil,

أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ سَوَآءً مَّحْيَـهُمْ وَمَمَـتُهُمْ

(that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their life and their death) treat them equally in the present life of the world and in the Hereafter

سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ

(Worst is the judgement that they make.) `worst is the thought that they have about Us and about Our justice, thinking that We will ever make the pious and the wicked equal in the Hereafter or this life.' At--Tabarani recorded that Shu`bah said that `Amr bin Murrah narrated that Abu Ad-Duha said that Masruq said that Tamim Ad-Dari once stood in voluntary prayer through the night until the morning only reciting this Ayah,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُواْ السَّيِّئَـتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ

(Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds) Allah said in reply:

سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ

(Worst is the judgement that they make.) Allah said,

وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضَ بِالْحَقِّ

(And Allah has created the heavens and the earth with truth,) meaning, in justice,

وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

(in order that each person may be recompensed what he has earned, and they will not be wronged.) Allah the Exalted said,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـهَهُ هَوَاهُ

(Have you seen him who takes his own lust as his god), who abides by his lust, and whatever his lust portrays as good he implements it, and whatever his lust portrays as evil, he abandons it! Allah's statement,

وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ

(And Allah left him astray with knowledge, ) has two meanings. One of them is that Allah knew that this person deserves to be misguided, so He left him astray. The second meaning is that Allah led this person astray after knowledge reached him and the proof was established before him. The second meaning includes the first meaning, but not the opposite. Allah said,

وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَـوَةً

(and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight.) so he does not hear what benefits him, understands not what would lead him to the guidance and sees not the evidence with which he can be enlightened. This is why Allah said,

فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

(Who then will guide him after Allah Will you not then remember) Allah said in a similar Ayah,

مَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِى طُغْيَـنِهِمْ يَعْمَهُونَ

(Whomsoever Allah sends astray, none can guide him; and He lets them wander blindly in their transgressions.) (7:186).

Tafsir Kemenag RI

Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi diciptakan dengan benar, dan memiliki tujuan penciptaan sesuai dengan kehendaknya. Tidak ada satu bendapun diadakan Tuhan tanpa mempunyai tujuan. Tujuan kehadiran satu ciptaan adalah untuk dimanfaatkan oleh ciptaan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan ciptaan yang lain itu. Apabila suatu kegiatan tidak memiliki tujuan, maka yang terjadi adalah la'ib, permainan. Kata sebaliknya bathil, kebalikan kata haq banyak digunakan untuk menjelaskan hal yang sama, sebagaimana ayat di bawah:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (shad/38: 27)

Seperti yang kita saksikan, sifat fisis bumi, seperti massa, struktur, suhu, dan seterusnya begitu tepat bagi kehidupan. Namun, sifat-sifat itu saja tidak cukup untuk memungkinkan adanya kehidupan di bumi, faktor penting lain adalah susunan atmosfer [lihat Surah Ibrahim/14:19 dan Surah al-Jatsiyah/45: 3].

Tidak ada satu pun kekuatan lain yang dapat mengubah kehendak Allah. Ketentuan yang demikian berlaku bagi seluruh ciptaan-Nya sesuai dengan keadilan dan sunah-Nya. Di antara keadilan Allah ialah memberikan balasan yang setimpal kepada para hamba-Nya atas amal dan perbuatannya pada hari pembalasan.

Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik akan menerima ganjarannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, demikian pula barang siapa yang melakukan perbuatan jahat akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu.

Mengapa dikatakan bahwa pemberian balasan yang setimpal itu sesuai dengan keadilan Allah. Karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya, dilengkapi dengan kecenderungan dan kemampuan untuk berbuat baik dan berbuat jahat. Kedua-duanya atau salah satu daripada kedua potensi itu dapat berkembang pada diri seseorang. Perkembangannya itu banyak ditentukan oleh keadaan, lingkungan, dan waktu. Di samping itu, Allah menganugerahi manusia akal pikiran. Dengan akal pikirannya itu manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk menilai rangsangan-rangsangan yang mempengaruhi tindakan dan perilakunya. Sebelum seseorang menentukan sikap untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya, maka dalam dirinya terjadi gejolak dalam mempertimbangkan dan menetapkan suatu pilihan, sikap mana atau tindakan mana yang akan diambilnya dari kedua tindakan itu.

Pada saat-saat yang demikian itu, manusia diberi kemerdekaan memilih antara yang baik dan yang buruk. Dalam pergolakan yang demikian, maka jiwa manusia mendapat tekanan-tekanan yang disebut tekanan-tekanan kejiwaan. Apabila ia memilih dan memutuskan melakukan suatu kebaikan, maka perbuatan itu terjadi berdasarkan pilihannya sendiri. Bila ia memilih keputusan melakukan keburukan, maka itu pun terjadi karena pilihannya sendiri pula. Saat-saat yang seperti itu adalah saat-saat yang menentukan apakah ia sengaja melakukan suatu perbuatan atau ia tidak sengaja melakukannya. Dan juga membedakan antara perbuatan yang dilakukan; apakah perbuatan itu dilakukan dengan sadar atau tidak. Itulah sebabnya dikatakan bahwa balasan Allah terhadap hamba-Nya sesuai dengan amal dan perbuatannya, itulah gambaran keadilan Allah.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

وَخَلَقَ

wakhalaqa

And Allah created

ٱللَّهُ

l-lahu

And Allah created

ٱلسَّمَٰوَٰتِ

l-samāwāti

the heavens

وَٱلۡأَرۡضَ

wal-arḍa

and the earth

بِٱلۡحَقِّ

bil-ḥaqi

in truth

وَلِتُجۡزَىٰ

walituj'zā

and that may be recompensed

كُلُّ

kullu

every

نَفۡسِۭ

nafsin

soul

بِمَا

bimā

for what

كَسَبَتۡ

kasabat

it has earned

وَهُمۡ

wahum

and they

لَا

will not be wronged

يُظۡلَمُونَ

yuẓ'lamūna

will not be wronged