Surah 45 · 45:23
Surah Al-Jathiyah 45:23
Al-Jathiyah · The Crouching
أَفَرَءَيْتَ مَنِ
Afaraayta mani ittakhatha ilahahuhawahu waadallahu Allahu AAalaAAilmin wakhatama AAala samAAihi waqalbihi wajaAAala AAalabasarihi ghishawatan faman yahdeehi min baAAdi Allahiafala tathakkaroon
Have you seen he who has taken as his god his [own] desire, and Allāh has sent him astray due to knowledge and has set a seal upon his hearing and his heart and put over his vision a veil? So who will guide him after Allāh? Then will you not be reminded?
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
The Life and the Death of the Believers and the Disbelievers are not Equal
Allah the Exalted states here that the believers and the disbelievers are never equal. Allah said in another Ayah,
لاَ يَسْتَوِى أَصْحَـبُ النَّارِ وَأَصْحَـبُ الْجَنَّةِ أَصْحَـبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَآئِزُونَ(Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise. It is the dwellers of Paradise that will be successful.) (59:20) Allah said here,
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُواْ السَّيِّئَـتِ(Or do those who earn evil deeds think) those who commit and practice evil,
أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ سَوَآءً مَّحْيَـهُمْ وَمَمَـتُهُمْ(that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their life and their death) treat them equally in the present life of the world and in the Hereafter
سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ(Worst is the judgement that they make.) `worst is the thought that they have about Us and about Our justice, thinking that We will ever make the pious and the wicked equal in the Hereafter or this life.' At--Tabarani recorded that Shu`bah said that `Amr bin Murrah narrated that Abu Ad-Duha said that Masruq said that Tamim Ad-Dari once stood in voluntary prayer through the night until the morning only reciting this Ayah,
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُواْ السَّيِّئَـتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ(Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds) Allah said in reply:
سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ(Worst is the judgement that they make.) Allah said,
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضَ بِالْحَقِّ(And Allah has created the heavens and the earth with truth,) meaning, in justice,
وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ(in order that each person may be recompensed what he has earned, and they will not be wronged.) Allah the Exalted said,
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـهَهُ هَوَاهُ(Have you seen him who takes his own lust as his god), who abides by his lust, and whatever his lust portrays as good he implements it, and whatever his lust portrays as evil, he abandons it! Allah's statement,
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ(And Allah left him astray with knowledge, ) has two meanings. One of them is that Allah knew that this person deserves to be misguided, so He left him astray. The second meaning is that Allah led this person astray after knowledge reached him and the proof was established before him. The second meaning includes the first meaning, but not the opposite. Allah said,
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَـوَةً(and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight.) so he does not hear what benefits him, understands not what would lead him to the guidance and sees not the evidence with which he can be enlightened. This is why Allah said,
فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ(Who then will guide him after Allah Will you not then remember) Allah said in a similar Ayah,
مَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِى طُغْيَـنِهِمْ يَعْمَهُونَ(Whomsoever Allah sends astray, none can guide him; and He lets them wander blindly in their transgressions.) (7:186).
Tafsir Kemenag RI
Muqatil mengatakan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa percakapan Abu Jahal dengan al-Walid bin al-Mugirah. Pada suatu malam Abu Jahal tawaf di Baitullah bersama Walid. Kedua orang itu membicarakan keadaan Nabi Muhammad. Abu Jahal berkata, "Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa Muhammad itu adalah orang yang benar. "Al-Walid berkata kepadanya, "Biarkan saja, apa pedulimu dan apa alasan pendapatmu itu?" Abu Jahal menjawab, "Hai Abu Abdisy Syams, kita telah menamainya orang yang benar, jujur, dan terpercaya dimasa mudanya, tetapi sesudah ia dewasa dan sempurna akalnya, kita menamakannya pendusta lagi pengkhianat. Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa dia itu adalah benar." Al-Walid berkata, "Apakah gerangan yang menghalangimu untuk membenarkan dan mempercayai seruannya?" Abu Jahal menjawab, "Nanti gadis-gadis Quraisy akan menggunjingkan bahwa aku pengikut anak yatim Abu thalib, padahal aku dari suku yang paling tinggi. Demi Al-Lata da Al-Uzza, saya tidak akan menjadi pengikutnya selama-lamanya." Kemudian turunlah ayat ini.
Selanjutnya, pada ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir Mekah yang sedang tenggelam dalam perbuatan jahat. Semua yang mereka lakukan itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsunya karena telah tergoda oleh tipu daya setan. Tidak ada lagi nilai-nilai kebenaran yang mendasari tingkah laku dan perbuatan mereka. Apa yang baik menurut hawa nafsu mereka itulah yang mereka perbuat. Seakan-akan mereka menganggap hawa nafsu mereka itu sebagai tuhan yang harus mereka ikuti perintahnya.
Mereka telah lupa bahwa kehadiran mereka di dunia yang fana ini ada maksud dan tujuannya. Ada misi yang harus mereka bawa yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi. Mereka telah menyia-nyiakan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka sebagai makhluk Tuhan yang paling baik bentuknya dan mempunyai kemampuan yang paling baik pula. Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Allah kelak dan bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang setimpal. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)
Sebenarnya hawa nafsu yang ada pada manusia itu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya yang diberikan Allah kepada manusia. Di samping Allah memberikan akal dan agama kepada manusia agar dengan keduanya manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika seseorang mengendalikan hawa nafsunya sesuai dengan pertimbangan akal yang sehat dan tidak bertentangan dengan tuntunan agama, maka orang yang demikian itu telah berbuat sesuai dengan fitrahnya. Tetapi apabila seseorang memperturutkan hawa nafsunya tanpa pertimbangan akal yang sehat dan tidak lagi berpedoman kepada tuntutan agama, maka orang itu telah diperbudak oleh hawa nafsunya. Hal itu berarti bahwa ia telah berbuat menyimpang dari fitrahnya dan terjerumus dalam kesesatan.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dalam mengikuti hawa nafsunya, manusia terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama ialah kelompok yang dapat mengendalikan hawa nafsunya; mereka itulah orang yang bertakwa. Sedangkan kelompok kedua ialah orang yang dikuasai hawa nafsunya. Mereka itulah orang-orang yang berdosa dan selalu bergelimang dalam lumpur kejahatan.
Ibnu 'Abbas berkata, "Setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur'an, setiap kali itu pula Ia mencelanya." Allah berfirman:
Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (al-A'raf/7: 176)
Pada ayat lain :
Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (shad/38: 26)
Dalam ayat ini, Allah memuji orang-orang yang dapat menguasai hawa nafsunya dan menjanjikan baginya tempat kembali yang penuh kenikmatan. Allah berfirman:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (an-Nazi'at/79: 40-41)
Banyak hadis-hadis Nabi saw yang mencela orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Amr bin 'As bahwa Nabi saw berkata.
Tidak beriman seseorang dari antara kamu sehingga hawa nafsunya itu tunduk kepada apa yang saya bawa (petunjuk).(Riwayat al-Khathib al-Bagdadi)
Syaddad bin Aus meriwayatkan hadis dari Nabi saw :
‡)
Orang yang cerdik ialah orang yang menguasai hawa nafsunya dan berbuat untuk kepentingan masa sesudah mati. Tetapi orang yang zalim ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharap-harap sesuatu yang mustahil dari Allah. (Riwayat at-Tirmidhi dan Ibnu Majah)
Orang yang selalu memperturutkan hawa nafusnya biasanya kehilangan kontrol dirinya. Itulah sebabnya ia terjerumus dalam kesesatan karena ia tidak mau memperhatikan petunjuk yang diberikan kepadanya, dan akibat perbuatan jahat yang telah dilakukannya karena memperturutkan hawa nafsu.
Keadaan orang yang memperturutkan hawa nafsunya itu diibaratkan seperti orang yang terkunci mati hatinya sehingga tidak mampu lagi menilai mana yang baik mana yang buruk, dan seperti orang yang telinganya tersumbat sehingga tidak mampu lagi memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di langit dan di bumi, dan seperti orang yang matanya tertutup tidak dapat melihat dan mengetahui kebenaran adanya Allah Yang Maha Pencipta segala sesuatu.
Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar tidak membenarkan sikap orang-orang kafir Mekah dengan mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang akan memberikan petunjuk selain Allah setelah mereka tersesat dari jalan yang lurus.
Pada akhir ayat ini, Allah mengingatkan mereka mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari alam semesta, kejadian pada diri mereka sendiri, dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai bukti bahwa Allah Mahakuasa lagi berhak disembah.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
أَفَرَءَيۡتَ
afara-ayta
Have you seen
مَنِ
mani
(he) who
ٱتَّخَذَ
ittakhadha
takes
إِلَٰهَهُۥ
ilāhahu
(as) his god
هَوَىٰهُ
hawāhu
his desire
وَأَضَلَّهُ
wa-aḍallahu
and Allah lets him go astray
ٱللَّهُ
l-lahu
and Allah lets him go astray
عَلَىٰ
ʿalā
knowingly
عِلۡمٖ
ʿil'min
knowingly
وَخَتَمَ
wakhatama
and He sets a seal
عَلَىٰ
ʿalā
upon
سَمۡعِهِۦ
samʿihi
his hearing
وَقَلۡبِهِۦ
waqalbihi
and his heart
وَجَعَلَ
wajaʿala
and puts
عَلَىٰ
ʿalā
over
بَصَرِهِۦ
baṣarihi
his vision
غِشَٰوَةٗ
ghishāwatan
a veil
فَمَن
faman
Then who
يَهۡدِيهِ
yahdīhi
will guide him
مِنۢ
min
after
بَعۡدِ
baʿdi
after
ٱللَّهِۚ
l-lahi
Allah
أَفَلَا
afalā
Then will not
تَذَكَّرُونَ
tadhakkarūna
you receive admonition