Surah 9 · 9:1
Surah At-Tawbah 9:1
At-Tawbah · The Repentance
بَر
Baraatun mina Allahiwarasoolihi ila allatheena AAahadtum minaalmushrikeen
[This is a declaration of] disassociation, from Allāh and His Messenger, to those with whom you had made a treaty among the polytheists.
(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Which was revealed in Makkah
Why there is no Basmalah in the Beginning of This Surah
This honorable Surah (chapter 9) was one of the last Surahs to be revealed to the Messenger of Allah ﷺ. Al-Bukhari recorded that Al-Bara' said, "The last Ayah to be revealed was,
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِى الْكَلَـلَةِ
(They ask you for a legal verdict. Say: "Allah directs (thus) about Al-Kalalah.") 4:176, while the last Surah to be revealed was Bara'ah."
The Basmalah was not mentioned in the beginning of this Surah because the Companions did not write it in the complete copy of the Qur'an (Mushaf) they collected, following the Commander of the faithful, `Uthman bin `Affan, may Allah be pleased with him. The first part of this honorable Surah was revealed to the Messenger of Allah ﷺ when he returned from the battle of Tabuk, during the Hajj season, which the Prophet thought about attending. But he remembered that the idolators would still attend that Hajj, as was usual in past years, and that they perform Tawaf around the House while naked. He disliked to associate with them and sent Abu Bakr As-Siddiq, may Allah be pleased with him, to lead Hajj that year and show the people their rituals, commanding him to inform the idolators that they would not be allowed to participate in Hajj after that season. He commanded him to proclaim,
بَرَآءَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
(Freedom from (all) obligations (is declared) from Allah and His Messenger ()...), to the people. When Abu Bakr had left, the Messenger ﷺ sent `Ali bin Abu Talib to be the one to deliver this news to the idolators on behalf of the Messenger ﷺ, for he was the Messenger's cousin. We will mention this story later.
Publicizing the Disavowal of the Idolators
Allah said,
بَرَآءَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
(Freedom from obligations from Allah and His Messenger ()), is a declaration of freedom from all obligations from Allah and His Messenger ,
إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِّنَ الْمُشْرِكِينَفَسِيحُواْ فِى الاٌّرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ
(to those of the Mushrikin, with whom you made a treaty. So travel freely (Mushrikin) for four months (as you will) throughout the land) 9:1-2. This Ayah refers to idolators who had indefinite treaties and those, whose treaties with Muslims ended in less than four months. The terms of these treaties were restricted to four months only. As for those whose term of peace ended at a specific date later (than the four months), then their treaties would end when their terms ended, no matter how long afterwards, for Allah said,
فَأَتِمُّواْ إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ
(So fulfill their treaty for them until the end of their term)9:4. So whoever had a coventant with Allah's Messenger ﷺ then it would last until its period expired, this was reported from Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi and others. We will also mention a Hadith on this matter. Abu Ma`shar Al-Madani said that Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi and several others said, "The Messenger of Allah ﷺ sent Abu Bakr to lead the Hajj rituals on the ninth year (of Hijrah). He also sent `Ali bin Abi Talib with thirty or forty Ayat from Bara'ah (At-Tawbah), and he recited them to the people, giving the idolators four months during which they freely move about in the land. He recited these Ayat on the day of `Arafah (ninth of Dhul-Hijjah). The idolators were given twenty more days (till the end) of Dhul-Hijjah, Muharram, Safar, Rabi` Al-Awwal and ten days from Rabi` Ath-Thani. He proclaimed to them in their camping areas, `No Mushrik will be allowed to perform Hajj after this year, nor a naked person to perform Tawaf around the House."' So Allah said,
Tafsir Kemenag RI
Banyak masalah pokok yang diterangkan di dalam Surah al-Anfal, diterangkan pula dalam surah ini dengan pengungkapan yang lebih luas dan mendalam, ada kalanya lebih terperinci, sehingga surah ini dalam beberapa hal banyak menambah kesempurnaan surah al-Anfal. Allah mengutus Nabi Muhammad saw ke dunia ini sebagai rasul yang terakhir untuk mengembangkan agama Islam dengan dakwah yang berlandaskan dalil-dalil yang dapat meyakinkan kebenarannya, tidak ada paksaan yang berlandaskan kekuatan senjata dan harta benda. Akan tetapi kaum musyrikin terus menentangnya dengan segala macam cara, mulai dari perkataan sampai kepada perbuatan yang di luar batas-batas perikemanusiaan, sehingga banyak kaum Muslimin terpaksa hijrah ke negeri Habsyah (Ethiopia) dan tempat-tempat lain. Oleh karena Nabi Muhammad saw dan sebagian sahabatnya masih bertahan di Mekah, untuk melanjutkan dakwah, maka kaum musyrikin Quraisy mengadakan musyawarah di suatu tempat yang bernama "Darun Nadwah" untuk mengambil suatu keputusan apakah Muhammad harus dibunuh atau dibuang saja. Akhirnya mereka memutuskan bahwa Muhammad harus dibunuh. Di dalam keadaan yang gawat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw hijrah ke Medinah, yang kemudian diikuti oleh para sahabatnya yang mampu datang ke Medinah. Di Medinah, Nabi dan para sahabatnya yang turut hijrah disambut penduduknya yang Muslim dengan sambutan luar biasa, seperti yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:
Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. (al-hasyr/59: 9)
Selanjutnya, Nabi saw mengadakan perjanjian damai dan tolong-menolong dengan orang-orang Yahudi, tetapi mereka berkhianat dan melanggar janji dengan menolong orang musyrikin yang selalu memusuhi Nabi di Mekah. Sehingga permusuhan dari kaum musyrikin bertambah meningkat, bahkan mereka bermaksud hendak menghancurkan agama Islam, maka perang disyariatkan dalam Islam. Kemudian Nabi mengadakan perjanjian damai dengan kaum musyrikin di Hudaibiyah untuk masa sepuluh tahun dengan syarat-syarat yang sangat lunak, yang seakan-akan menguntungkan kaum musyrikin, tetapi kaum musyrikin melanggar perjanjian itu, sehingga tidak ada pilihan lain bagi Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, selain menghadapi tantangan itu dengan penuh keimanan dan keberanian. Akhirnya pada tahun ke-8 Hijri, kota Mekah dapat ditaklukkan oleh kaum Muslimin. Dengan demikian kekuatan kaum musyrikin menjadi lemah, akan tetapi mereka masih mengadakan perlawanan dengan segala cara yang masih bisa mereka lakukan, sehingga turunlah surah ini yang menyatakan pembatalan perjanjian perdamaian dan pemutusan hubungan dengan kaum musyrikin.
Ayat ini menyatakan pembatalan berbagai perjanjian damai dengan kaum musyrikin dengan cara yang lebih tegas dan positif dari yang sudah diterangkan Allah dalam firman-Nya:
Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berkhianat. (al-Anfal/8: 58)
Banyak pendapat ahli tafsir tentang perjanjian yang dibatalkan dalam ayat ini. Menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir bahwa pendapat yang terbaik dan terkuat ialah perjanjian yang ditentukan waktunya, sedang perjanjian yang masih berlaku, harus ditunggu sampai habis waktunya, sesuai dengan ayat keempat dari surah yang akan diterangkan kemudian ini.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
بَرَآءَةٞ
barāatun
Freedom from obligations
مِّنَ
mina
from
ٱللَّهِ
l-lahi
Allah
وَرَسُولِهِۦٓ
warasūlihi
and His Messenger
إِلَى
ilā
to
ٱلَّذِينَ
alladhīna
those (with) whom
عَٰهَدتُّم
ʿāhadttum
you made a covenant
مِّنَ
mina
from
ٱلۡمُشۡرِكِينَ
l-mush'rikīna
the polytheists