Surah 8 · 8:75
Surah Al-Anfal 8:75
Al-Anfal · The Spoils of War
وَ
Wallatheena amanoo minbaAAdu wahajaroo wajahadoo maAAakum faola-ikaminkum waoloo al-arhami baAAduhum awlabibaAAdin fee kitabi Allahi inna Allahabikulli shay-in AAaleem
And those who believed after [the initial emigration] and emigrated and fought with you - they are of you. But those of [blood] relationship are more entitled [to inheritance] in the decree of Allāh. Indeed, Allāh is Knowing of all things.
Dan orang-orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Believers in Truth
After Allah affirmed the ruling of loyalty and protection between the believers in this life, He then mentioned their destination in the Hereafter. Allah also affirmed the faith of the believers, just as mentioned in the beginning of this Surah, and that He will reward them with forgiveness and by erasing their sins, if they have any. He also promised them honorable provisions that are abundant, pure, everlasting and eternal; provisions that never end or run out, nor will they ever cause boredom, for they are delightful and come in great varieties. Allah then mentioned that those who follow the path of the believers in faith and performing good deeds, will be with them in the Hereafter. Just as Allah said,
وَالسَّـبِقُونَ الاٌّوَّلُونَ
(And the foremost to embrace Islam...) 9:100, until the end of the Ayah. He also said,
وَالَّذِينَ جَآءُوا مِن بَعْدِهِمْ
(And those who came after them ...) 59:10.
A Hadith that is in the Two Sahihs, which is Mutawatir and has several authentic chains of narrations, mentions that the Messenger of Allah ﷺ said,
«الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَب»
(One will be in the company of those whom he loves.) Another Hadith states,
«مَنْ أَحَبَّ قَوْمًا فَهُوَ مِنْهُم»
(He who loves a people is one of them), and in another narration, he said,
«حُشِرَ مَعَهُم»
(...will be gathered with them (on the Day of Resurrection).)
Inheritance is for Designated Degrees of Relatives
Allah said,
وَأُوْلُواْ الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَـبِ اللَّهِ
(But kindred by blood are nearer to one another (regarding inheritance) in the decree ordained by Allah), meaning, in Allah's decision. This Ayah encompasses all relatives, not only the degrees of relative who do not have a fixed, designated share in the inheritance, as some people claim and use this Ayah to argue. According to Ibn `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah and several others, this Ayah abrogated inheriting from those with whom one had ties of treaties or brotherhood, as was the case in the beginning of Islam. So it applies to all relatives, and as for those who do not inherit, then this is supported by the Hadith,
«إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقَ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةٍ لِوَارِث»
(Indeed Allah had alloted every right to the one who deserves it, so there may be no will for an heir.)
Therefore, this Ayah also includes those who have a fixed share of inheritance. Allah knows best.
This is the end of the Tafsir of Surat Al-Anfal, all praise and thanks are for Allah, in Him we trust, and He is sufficient for us, what an excellent supporter He is.
Tafsir Kemenag RI
Pada ayat ini disebutkan golongan keempat yaitu orang-orang yang terlambat masuk Islam, terlambat beriman dan terlambat pula hijrah. Tetapi meskipun demikian mereka dapat ikut berjuang dengan ikhlas bersama kaum Muslimin. Mereka bersedia pula berkorban dengan harta dan jiwa seperti kawannya yang lebih dahulu masuk Islam. Karena itu mereka bukanlah tergolong "pahlawan kesiangan," sebaliknya mereka dapat digolongkan ke dalam golongan Muhajirin dan Anshar meskipun derajat mereka di sisi Allah tidak setinggi derajat golongan pertama dan kedua ini.
Untuk menjelaskan ketinggian derajat kaum Muhajirin dan Anshar itu Allah berfirman:
Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya) di jalan Allah di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (al-hadid/57: 10)
Dan firman-Nya lagi:
Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah/9: 100)
Sebagai penutup ayat ini, Allah menerangkan kedudukan ulul arham (karib kerabat) dibandingkan dengan kedudukan kaum Muslimin umumnya. Ulul arham yang mukmin lebih dekat kepada seseorang dari kaum Muslimin lainnya, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshar. Oleh sebab itu, merekalah yang lebih berhak menerima pertolongan, kesetiakawanan, dan mengurus berbagai urusan. Karena itu pula, wajib dibina hubungan antara mereka dengan saling menolong, waris mewarisi, dan mengangkat mereka menjadi wali dalam pernikahan dan sebagainya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
Mulailah (berbuat baik) kepada dirimu sendiri, maka beri nafkahlah dirimu lebih dahulu. Bila masih ada yang akan engkau nafkahkan berikanlah kepada keluargamu. Bila masih ada lagi sesudah memberi keluargamu berikanlah kepada karib kerabatmu. Dan bila masih ada lagi sesudah memberi karib kerabatmu, maka bertindaklah seperti itu, yakni ada yang lebih berhak daripada yang lain, dan demikianlah seterusnya. (Riwayat an-Nasa'i dari Jabir)
Dalam Al-Qur'an banyak pula terdapat firman Allah yang mendahulukan kedudukan karib kerabat yang terdekat yaitu ayah ibu dengan menyebutkan mereka pertama-tama kemudian baru diiringi dengan yang terdekat yakni ulul arham dan seterusnya, firman Allah:
Dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia. (al-Baqarah/2: 83)
Mendahulukan orang tua dan karib kerabat dalam berbuat baik tidak berarti agama Islam mengajarkan atau mengizinkan nepotisme. Nepotisme sangat mengutamakan saudara dan karib kerabat serta teman-teman dekatnya dengan mengorbankan hak orang lain, baik dalam pengangkatan jabatan-jabatan tertentu dan dalam pemberian beberapa fasilitas (kemudahan) dengan menyisihkan orang lain yang juga berhak mendapatkannya. Nepotisme justru dilarang agama karena bertentangan dengan prinsip keadilan, sebab agama memerintahkan pemeluknya untuk selalu menegakkannya. Keadilan harus ditegakkan terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, dan karib kerabat. Firman Allah dalam Surah an-Nisa/4: 135 menegaskan sebagai berikut:
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. (an-Nisa/4: 135)
Demikianlah seterusnya hubungan di antara orang-orang mukmin dan demikianlah tingkat dan derajat mereka di sisi Allah. Hendaklah hal ini diperhatikan sebaik-baiknya agar kaum Muslimin dapat hidup tenteram dan bahagia, karena yang menetapkan tata tertib ini adalah Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
وَٱلَّذِينَ
wa-alladhīna
And those who
ءَامَنُواْ
āmanū
believed
مِنۢ
min
from
بَعۡدُ
baʿdu
afterwards
وَهَاجَرُواْ
wahājarū
and emigrated
وَجَٰهَدُواْ
wajāhadū
and strove hard
مَعَكُمۡ
maʿakum
with you
فَأُوْلَٰٓئِكَ
fa-ulāika
then those
مِنكُمۡۚ
minkum
(are) of you
وَأُوْلُواْ
wa-ulū
But those
ٱلۡأَرۡحَامِ
l-arḥāmi
(of) blood relationship
بَعۡضُهُمۡ
baʿḍuhum
some of them
أَوۡلَىٰ
awlā
(are) nearer
بِبَعۡضٖ
bibaʿḍin
to another
فِي
fī
in
كِتَٰبِ
kitābi
(the) Book
ٱللَّهِۚ
l-lahi
(of) Allah
إِنَّ
inna
Indeed
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
بِكُلِّ
bikulli
of every
شَيۡءٍ
shayin
thing
عَلِيمُۢ
ʿalīmun
(is) All-Knower