Surah 17 · 17:36

Surah Al-Isra 17:36

Al-Isra · The Night Journey

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْــُٔولاً

Wala taqfu ma laysa laka bihiAAilmun inna assamAAa walbasara walfu-adakullu ola-ika kana AAanhu mas-oola

And do not pursue that of which you have no knowledge. Indeed, the hearing, the sight and the heart - about all those [one] will be questioned.

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

SurahAl-Isra
Juz15
Page285
Revelationmakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

Do not speak without Knowledge

`Ali bin Abi Talhah reported that Ibn `Abbas said: "This means) do not say (anything of which you have no knowledge)." Al-`Awfi said: "Do not accuse anyone of that of which you have no knowledge." Muhammad bin Al-Hanafiyyah said: "It means bearing false witness." Qatadah said: "Do not say, `I have seen', when you did not see anything, or `I have heard', when you did not hear anything, or `I know', when you do not know, for Allah will ask you about all of that." In conclusion, what they said means that Allah forbids speaking without knowledge and only on the basis of suspicion, which is mere imagination and illusions. As Allah says:

اجْتَنِبُواْ كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

(Avoid much suspicion; indeed some suspicions are sins.) 49:12 According to a Hadith:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّنَفَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيث»

(Beware of suspicion, for suspicion is the falsest of speech.) The following Hadith is found in Sunan Abu Dawud:

«بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَمُوا»

(What an evil habit it is for a man to say, `They claimed...') According to another Hadith:

«إِنَّ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِيَ الرَّجُلُ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَيَا»

(The worst of lies is for a man to claim to have seen something that he has not seen.) In the Sahih it says:

«مَنْ تَحَلَّمَ حُلْمًا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَيْسَ بِفَاعِل»

(Whoever claims to have seen a dream (when he has not seen) will be told on the Day of Resurrection to make a knot between two barley grains, and he will not be able to do it.)

كُلُّ أُولـئِكَ

(each of those ones) means these faculties, hearing, sight and the heart,

كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

(will be questioned.) means, the person will be asked about them on the Day of Resurrection, and they will be asked about him and what he did with them.

Tafsir Kemenag RI

Allah swt melarang kaum Muslimin mengikuti perkataan atau perbuatan yang tidak diketahui kebenarannya. Larangan ini mencakup seluruh kegiatan manusia itu sendiri, baik perkataan maupun perbuatan.

Untuk mendapat keterangan lebih jauh dari kandungan ayat ini, berikut ini dikemukakan berbagai pendapat dari kalangan sahabat dan tabiin:

1. Ibnu 'Abbas berkata, "Jangan memberi kesaksian, kecuali apa yang telah engkau lihat dengan kedua mata kepalamu, apa yang kau dengar dengan telingamu, dan apa yang diketahui oleh hati dengan penuh kesadaran."

2. Qatadah berkata, "Jangan kamu berkata, "Saya telah mendengar," padahal kamu belum mendengar, dan jangan berkata, "Saya telah melihat," padahal kamu belum melihat, dan jangan kamu berkata, "Saya telah mengetahui," padahal kamu belum mengetahui."

3. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan larangan mengatakan sesuatu yang tidak diketahui ialah perkataan yang hanya berdasarkan prasangka dan dugaan, bukan pengetahuan yang benar, seperti tersebut dalam firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. (al-Hujurat/49: 12)

Dan seperti tersebut dalam hadis:

Jauhilah olehmu sekalian prasangka, sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta. (Riwayat Muslim, Ahmad, dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah)

4. Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah larangan kepada kaum musyrikin mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka, dengan taklid buta dan mengikuti keinginan hawa nafsu. Di antaranya adalah mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka menyembah berhala, dan memberi berhala itu dengan berbagai macam nama, seperti tersebut dalam firman Allah:

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya. (an-Najm/53: 23)

Allah swt lalu mengatakan bahwa sesungguhnya pendengaran, peng-lihatan, dan hati akan ditanya, apakah yang dikatakan oleh seseorang itu sesuai dengan apa yang didengar suara hatinya. Apabila yang dikatakan itu sesuai dengan pendengaran, penglihatan, dan suara hatinya, ia selamat dari ancaman api neraka, dan akan menerima pahala dan keridaan Allah. Tetapi apabila tidak sesuai, ia tentu akan digiring ke dalam api neraka.

Allah swt berfirman:

Pada hari, (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (an-Nur/24: 24)

Dan hadis yang diriwayatkan oleh Syakal bin Humaid, ia berkata:

Saya mengunjungi Nabi saw, kemudian saya berkata, "Wahai Nabi, ajarilah aku doa minta perlindungan yang akan aku baca untuk memohon perlindungan kepada Allah. Maka Nabi memegang tanganku seraya bersabda, "Katakanlah, "Aku berlindung kepada-Mu (Ya Allah) dari kejahatan telingaku, kejahatan mataku, kejahatan hatiku, dan kejahatan maniku (zina)." (Riwayat Muslim)

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

وَلَا

walā

And (do) not

تَقۡفُ

taqfu

pursue

مَا

what

لَيۡسَ

laysa

not

لَكَ

laka

you have

بِهِۦ

bihi

of it

عِلۡمٌۚ

ʿil'mun

any knowledge

إِنَّ

inna

Indeed

ٱلسَّمۡعَ

l-samʿa

the hearing

وَٱلۡبَصَرَ

wal-baṣara

and the sight

وَٱلۡفُؤَادَ

wal-fuāda

and the heart

كُلُّ

kullu

all

أُوْلَٰٓئِكَ

ulāika

those

كَانَ

kāna

will be

عَنۡهُ

ʿanhu

[about it]

مَسۡـُٔولٗا

masūlan

questioned