Surah 8 · 8:28
Surah Al-Anfal 8:28
Al-Anfal · The Spoils of War
وَ
WaAAlamoo annama amwalukumwaawladukum fitnatun waanna Allaha AAindahu ajrunAAatheem
And know that your properties and your children are but a trial and that Allāh has with Him a great reward.
Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Reason behind revealing This Ayah, and the prohibition of Betrayal
The Two Sahihs mention the story of Hatib bin Abi Balta`ah. In the year of the victory of Makkah he wrote to the Quraysh alerting them that the Messenger of Allah ﷺ intended to march towards them. Allah informed His Messenger of this, and he sent a Companion to retrieve the letter that Hatib sent, and then he summoned him. He admitted to what he did. `Umar bin Al-Khattab stood up and said, "O Allah's Messenger! Should I cut off his head, for he has betrayed Allah, His Messenger and the believers" The Prophet said,
«دَعْهُ فَإِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُم»
(Leave him! He participated in Badr. How do you know that Allah has not looked at those who participated in Badr and said, Do whatever you want, for I have forgiven you.)
However, it appears that this Ayah is more general, even if it was revealed about a specific incident. Such rulings are dealt with by their indications, not the specific reasons behind revealing them, according to the majority of scholars.
Betrayal includes both minor and major sins, as well those that affect others. `Ali bin Abi Talhah said that Ibn `Abbas commented on the Ayah,
وَتَخُونُواْ أَمَـنَـتِكُمْ
(nor betray your Amanat) "The Amanah refers to the actions that Allah has entrusted the servants with, such as and including what He ordained. Therefore, Allah says here,
لاَ تَخُونُواْ
(nor betray...), `do not abandon the obligations."' `Abdur-Rahman bin Zayd commented, "Allah forbade you from betraying Him and His Messenger, as hypocrites do."
Allah said,
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَآ أَمْوَلُكُمْ وَأَوْلَـدُكُمْ فِتْنَةٌ
(And know that your possessions and your children are but a trial.) from Him to you. He grants these to you so that He knows which of you will be grateful and obedient to Him, or become busy with and dedicated to them instead of Him. Allah said in another Ayah,
إِنَّمَآ أَمْوَلُكُمْ وَأَوْلَـدُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(Your wealth and your children are only a trial, whereas Allah! With Him is a great reward.) 64:15,
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
(And We shall make a trial of you with evil and with good.) 21:35,
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلاَ أَوْلَـدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَـسِرُونَ
(O you who believe! Let not your properties or your children divert you from the remembrance of Allah. And whosoever does that, then they are the losers.)63:9, and,
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ إِنَّ مِنْ أَزْوَجِكُمْ وَأَوْلـدِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
(O you who believe! Verily, among your wives and your children there are enemies for you (who may stop you from the obedience of Allah); therefore beware of them!) 64:14 Allah said next,
وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(And that surely with Allah is a mighty reward.) Therefore, Allah's reward, favor and Paradise are better for you than wealth and children. Certainly, among the wealth and children there might be enemies for you and much of them avail nothing. With Allah alone is the decision and sovereignty in this life and the Hereafter, and He gives tremendous rewards on the Day of Resurrection. In the Sahih, there is a Hadith in which the Messenger of Allah ﷺ said,
«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ، وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ، وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْه»
(There are three qualities for which whomever has them, he will have tasted the sweetness of faith. (They are:) whoever Allah and His Messenger are dearer to him than anyone else, whoever loves a person for Allah's sake alone, and whoever prefers to be thrown in fire rather than revert to disbelief, after Allah has saved him from it.)
Therefore, loving the Messenger of Allah ﷺ comes before loving children, wealth and oneself. In the Sahih, it is confirmed that he said,
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين»
(By He in Whose Hand is my soul! None of you will have faith unless I become dearer to him than himself, his family, his wealth and all people.)
Tafsir Kemenag RI
Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah.
Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.
Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama serta menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.
Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.
Firman Allah:
Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
وَٱعۡلَمُوٓاْ
wa-iʿ'lamū
And know
أَنَّمَآ
annamā
that
أَمۡوَٰلُكُمۡ
amwālukum
your wealth
وَأَوۡلَٰدُكُمۡ
wa-awlādukum
and your children
فِتۡنَةٞ
fit'natun
(are) a trial
وَأَنَّ
wa-anna
And that
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
عِندَهُۥٓ
ʿindahu
with Him
أَجۡرٌ
ajrun
(is) a reward
عَظِيمٞ
ʿaẓīmun
great