Surah 8 · 8:27
Surah Al-Anfal 8:27
Al-Anfal · The Spoils of War
يَ
Ya ayyuha allatheena amanoola takhoonoo Allaha warrasoola watakhoonooamanatikum waantum taAAlamoon
O you who have believed, do not betray Allāh and the Messenger or betray your trusts while you know [the consequence].
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Reason behind revealing This Ayah, and the prohibition of Betrayal
The Two Sahihs mention the story of Hatib bin Abi Balta`ah. In the year of the victory of Makkah he wrote to the Quraysh alerting them that the Messenger of Allah ﷺ intended to march towards them. Allah informed His Messenger of this, and he sent a Companion to retrieve the letter that Hatib sent, and then he summoned him. He admitted to what he did. `Umar bin Al-Khattab stood up and said, "O Allah's Messenger! Should I cut off his head, for he has betrayed Allah, His Messenger and the believers" The Prophet said,
«دَعْهُ فَإِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُم»
(Leave him! He participated in Badr. How do you know that Allah has not looked at those who participated in Badr and said, Do whatever you want, for I have forgiven you.)
However, it appears that this Ayah is more general, even if it was revealed about a specific incident. Such rulings are dealt with by their indications, not the specific reasons behind revealing them, according to the majority of scholars.
Betrayal includes both minor and major sins, as well those that affect others. `Ali bin Abi Talhah said that Ibn `Abbas commented on the Ayah,
وَتَخُونُواْ أَمَـنَـتِكُمْ
(nor betray your Amanat) "The Amanah refers to the actions that Allah has entrusted the servants with, such as and including what He ordained. Therefore, Allah says here,
لاَ تَخُونُواْ
(nor betray...), `do not abandon the obligations."' `Abdur-Rahman bin Zayd commented, "Allah forbade you from betraying Him and His Messenger, as hypocrites do."
Allah said,
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَآ أَمْوَلُكُمْ وَأَوْلَـدُكُمْ فِتْنَةٌ
(And know that your possessions and your children are but a trial.) from Him to you. He grants these to you so that He knows which of you will be grateful and obedient to Him, or become busy with and dedicated to them instead of Him. Allah said in another Ayah,
إِنَّمَآ أَمْوَلُكُمْ وَأَوْلَـدُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(Your wealth and your children are only a trial, whereas Allah! With Him is a great reward.) 64:15,
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
(And We shall make a trial of you with evil and with good.) 21:35,
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلاَ أَوْلَـدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَـسِرُونَ
(O you who believe! Let not your properties or your children divert you from the remembrance of Allah. And whosoever does that, then they are the losers.)63:9, and,
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ إِنَّ مِنْ أَزْوَجِكُمْ وَأَوْلـدِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
(O you who believe! Verily, among your wives and your children there are enemies for you (who may stop you from the obedience of Allah); therefore beware of them!) 64:14 Allah said next,
وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(And that surely with Allah is a mighty reward.) Therefore, Allah's reward, favor and Paradise are better for you than wealth and children. Certainly, among the wealth and children there might be enemies for you and much of them avail nothing. With Allah alone is the decision and sovereignty in this life and the Hereafter, and He gives tremendous rewards on the Day of Resurrection. In the Sahih, there is a Hadith in which the Messenger of Allah ﷺ said,
«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ، وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ، وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْه»
(There are three qualities for which whomever has them, he will have tasted the sweetness of faith. (They are:) whoever Allah and His Messenger are dearer to him than anyone else, whoever loves a person for Allah's sake alone, and whoever prefers to be thrown in fire rather than revert to disbelief, after Allah has saved him from it.)
Therefore, loving the Messenger of Allah ﷺ comes before loving children, wealth and oneself. In the Sahih, it is confirmed that he said,
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين»
(By He in Whose Hand is my soul! None of you will have faith unless I become dearer to him than himself, his family, his wealth and all people.)
Tafsir Kemenag RI
Abdullah bin Abi Qatadah berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah pada ketika Rasulullah saw, mengepung suku Quraidhah dan memerintahkan mereka untuk menerima putusan Saad. Sesudah itu Quraidhah berunding dengan Abu Lubabah tentang menerima putusan Saad itu, karena keluarga Abu Lubabah dan harta bendanya berada dalam kekuasaan mereka. Kemudian Quraidhah menunjuk ke lehernya (yakni sebagai tanda untuk disembelih). Abu Lubabah berkata, "Sebelum kedua telapak kakiku bergerak, aku telah mengetahui bahwa diriku telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya." Kemudian ia bersumpah tidak akan makan apa pun sehingga ia mati, atau Allah menerima taubatnya. Kemudian ia pergi ke mesjid dan mengikat dirinya ke tiang, dan tinggal beberapa hari di sana sehingga jatuh pingsan, karena badannya sangat lemah. Kemudian Allah menerima taubatnya. Dan ia bersumpah, bahwa dia tidak boleh dilepaskan dirinya dari ikatannya selain oleh Rasulullah sendiri. Kemudian ia berkata, "Hai Rasulullah! Saya bernazar untuk melepaskan hartaku sebagai sadaqah." Rasulullah bersabda, "Cukuplah bersadaqah sepertiganya." (Riwayat Saad bin Manshur dari Abdillah bin Abi Qatadah).
Allah menyeru kaum Muslimin agar mereka tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengabaikan kewajiban-kewajiban yang harus mereka laksanakan, melanggar larangan-larangan-Nya, yang telah ditentukan dengan perantaraan wahyu. Tidak mengkhianati amanat yang telah dipercayakan kepada mereka, yaitu mengkhianati segala macam urusan yang menyangkut ketertiban umat, seperti urusan pemerintahan, urusan perang, urusan perdata, urusan kemasyarakatan dan tata tertib hidup masyarakat. Untuk mengatur segala macam urusan yang ada dalam masyarakat itu diperlukan adanya peraturan yang ditaati oleh segenap anggota masyarakat dan oleh pejabat-pejabat yang dipercaya mengurusi kepentingan umat.
Peraturan-peraturan itu secara prinsip telah diberikan ketentuannya secara garis besar di dalam Al-Quran dan Hadis. Maka segenap yang berpautan dengan segala urusan kemasyarakatan itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Karenanya segenap peraturan yang menyangkut kepentingan umat tidak boleh dikhianati, dan wajib ditaati sebagaimana mestinya. Hampir seluruh kegiatan dalam masyarakat ini berhubungan dengan kepercayaan itu. Itulah sebabnya maka Allah, melarang kaum Muslimin mengkhianati amanat, karena apabila amanat sudah tidak terpelihara lagi berarti hilanglah kepercayaan. Apabila kepercayaan telah hilang maka berarti ketertiban hukum tidak akan terpelihara lagi dan ketenangan hidup bermasyarakat tidak dapat dinikmati lagi.
Allah menegaskan bahwa bahaya yang akan menimpa masyarakat lantaran mengkhianati amanat yang telah diketahui, baik bahaya yang akan menimpa mereka di dunia, yaitu merajalelanya kejahatan dan kemaksitan yang mengguncangkan hidup bermasyarakat, ataupun penyesalan yang abadi dan siksaan api neraka yang akan menimpa mereka di akhirat nanti.
Khianat adalah sifat orang-orang munafik, sedang amanah adalah sifat orang-orang mukmin. Maka orang mukmin harus menjauhi sifat khianat itu agar tidak kejangkitan penyakit nifak yang dapat mengikis habis imannya.
Anas bin Malik berkata:
"Rasulullah saw pada setiap khutbahnya selalu bersabda: "Tidak beriman orang yang tak dapat dipercaya, dan tidak beragama orang yang tak dapat dipercaya." (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas bin Malik)
Sabda Nabi saw:
"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Apabila menuturkan kata-kata ia berdusta, dan apabila berjanji ia menyalahi, dan apabila diberi kepercayaan ia berkhianat." (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
يَٰٓأَيُّهَا
yāayyuhā
O you
ٱلَّذِينَ
alladhīna
who
ءَامَنُواْ
āmanū
believe
لَا
lā
(Do) not
تَخُونُواْ
takhūnū
betray
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
وَٱلرَّسُولَ
wal-rasūla
and the Messenger
وَتَخُونُوٓاْ
watakhūnū
or betray
أَمَٰنَٰتِكُمۡ
amānātikum
your trusts
وَأَنتُمۡ
wa-antum
while you
تَعۡلَمُونَ
taʿlamūna
know