Surah 13 · 13:38
Surah Ar-Ra'd 13:38
Ar-Ra'd · The Thunder
وَلَقَ
Walaqad arsalna rusulan min qablikawajaAAalna lahum azwajan wathurriyyatan wamakana lirasoolin an ya/tiya bi-ayatin illabi-ithni Allahi likulli ajalin kitab
And We have already sent messengers before you and assigned to them wives and descendants. And it was not for a messenger to come with a sign except by permission of Allāh. For every term is a decree.
Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada Kitab (tertentu).
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
All Prophets and Messengers were Humans
Allah says, `Just as We have sent you O Muhammad, a Prophet and a human, We sent the Messengers before you from among mankind, that eat food, walk in the markets, and We gave them wives and offspring.' Allah said to the most honorable and Final Messenger,
قُلْ إِنَّمَآ أَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَىَّ
(Say: "I am only a man like you. It has been revealed to me.") 18:110 It is recorded in the Two Sahihs that the Messenger of Allah ﷺ said,
«أَمَّا أَنَا فَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَقُومُ وَأَنَامُ، وَآكُلُ اللَّحْمَ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
(As for me, I fast and break the fast, stand in prayer at night and sleep, eat meat and marry women; so whoever turns away from my Sunnah is not of mine.)
No Prophet can bring a Miracle except by Allah's Leave
Allah said,
وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِىَ بِـَايَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ
(And it was not for a Messenger to bring a sign except by Allah's leave.) meaning, no Prophet could have brought a miracle to his people except by Allah's permission and will, for this matter is only decided by Allah the Exalted and Most Honored, not the Prophets; surely Allah does what He wills and decides what He wills.
لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
((For) every matter there is a decree (from Allah).) for every term appointed, there is a record (or decree) that keeps it, and everything has a specific due measure with Allah,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَآءِ وَالاٌّرْضِ إِنَّ ذلِكَ فِى كِتَـبٍ إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
(Know you not that Allah knows all that is in the heaven and on the earth Verily, it is (all) in the Book. Verily, that is easy for Allah.)22:70
Meaning of Allah blotting out what He wills and confirming what He wills of the Book
Allah said,
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَآءُ
(Allah blots out what He wills) of the divinely revealed Books,
وَيُثَبِّتْ
(and confirms), until the Qur'an, revealed from Allah to His Messenger peace be upon him, abrogated them all. Mujahid commented;
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ
(Allah blots out what He wills and confirms (what He wills).) "Except life and death, misery and happiness i.e., faith and disbelief, for they do not change." Mansur said that he asked Mujahid, "Some of us say in their supplication, `O Allah! If my name is with those who are happy (believers), affirm my name among them, and if my name is among the miserable ones (disbelievers), remove it from among them and place it among the happy ones." Mujahid said. "This supplication is good." I met him a year or more later and repeated the same question to him and he recited these Ayat,
إِنَّآ أَنزَلْنَـهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَـرَكَةٍ
(We sent it (this Qur'an) down on a blessed night.) Mujahid commented next, "During Laylatul-Qadr (Night of the Decrees), Allah decides what provisions and disasters will occur in the next year of. He then brings forward or back (or blots out) whatever He wills. As for the Book containing the records of the happy (believers) and the miserable (disbelievers), it does not change." Al-A`mash narrated that Abu Wa'il, Shaqiq bin Salamah said that he used to recite this supplication often, "O Allah, if You wrote us among the wretched ones, remove this status from us and write us among the blessed ones. If You wrote us among the blessed ones, please let us stay that way, for surely, You blot out and confirm what You will, and with You is the Mother of the Book." Ibn Jarir At-Tabari collected this. Similar statements were collected from `Umar bin Al-Khattab and `Abdullah bin Mas`ud, indicating that Allah blots out (or abrogates) and affirms what He wills in the Book of Records. What further supports this meaning is that Imam Ahmad recorded that Thawban said that the Messenger of Allah ﷺ said,
«إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِر»
(A man might be deprived of a provision (that was written for him) because of a sin that he commits; only supplication changes Al-Qadar (Predestination); and only Birr (righteousness) can increase the life span.") An-Nasa'i and Ibn Majah collected this Hadith. There is also a Hadith recorded in the Sahih that affirms that maintaining the ties of the womb increases the life span. Al-`Awfi reported that Ibn `Abbas said about Allah's statement,
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَـبِ
(Allah blots out what He wills and confirms (what He wills). And with Him is the Mother of the Book.) "A man might work in Allah's obedience for a while but he reverts to the disobedience of Him and then dies while misguided. This is what Allah blots out, while what He confirms is a man who works in His disobedience, but since goodness was destined for him, he dies after reverting to the obedience of Allah. This is what Allah confirms." It was also reported that Sa`id bin Jubayr said that this Ayah is in the meaning of another Ayah,
فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(Then He forgives whom He wills and punishes whom He wills. And Allah is able to do all things.) 2:284
Tafsir Kemenag RI
Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa Dia telah mengutus rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw dan mereka beristri dan berketurunan.
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan berkeluarga dan berketurunan adalah hal yang wajar dan merupakan sunatullah bagi makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini. Sunatullah ini juga berlaku bagi para nabi dan rasul-Nya. Hidup berkeluarga tidak boleh dianggap sebagai penghalang dalam perjuangan, baik demi kemajuan pribadi, masyarakat, maupun bangsa. Bahkan pernikahan menurut ajaran Islam, selain bertujuan untuk melanjut-kan keturunan, juga berfungsi memberikan ketenangan, ketenteraman, dan kestabilan hidup. Pernikahan juga mempererat silaturrahim antara keluarga-keluarga yang bersangkutan dan dapat menjadi sarana dakwah Islamiyah, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Karena hidup berkeluarga adalah suatu yang wajar dan merupakan sunatullah, maka manusia tidak boleh menentangnya. Oleh sebab itu, adalah keliru apabila ada pemimpin agama yang mempunyai anggapan bahwa mereka harus menjauhi hidup berkeluarga, agar tidak mengganggu dalam menjalankan agama. Sikap hidup membujang atau tabattul adalah hal-hal yang tidak dikenal dalam agama Islam, bahkan sangat ditentang. Perkawinan dan anak merupakan nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, perkawinan dan keluarga perlu dipelihara dan dilestarikan sebaik-baiknya.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad saw karena beliau mempunyai beberapa orang istri. Mereka mengatakan kalau benar-benar Muhammad adalah nabi dan rasul, tentu ia akan menyibukkan diri dengan tugas-tugas kenabiannya saja dan tidak akan mempedulikan perempuan. Mereka juga meminta bermacam-macam bukti tentang kenabiannya, selain Al-Quran yang menjadi mukjizatnya. Allah swt telah membantah mereka dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah rasul Allah yang pertama, melainkan sebelum itu Allah swt telah mengutus beberapa rasul dan semuanya adalah manusia biasa yang membutuhkan makan, minum, berkeluarga dan berketurunan, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lainnya, berjalan di pasar, dan sebagainya. Dalam hal ini, Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menegaskan:
Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu. (al-Kahf/18: 110)
Kemudian, dalam ayat ini ditegaskan tentang kewajaran dan kebolehan para rasul itu hidup berkeluarga dan berketurunan. Allah menegaskan bahwa Dia mengaruniai mereka istri dan keturunan.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:
Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku salat di waktu malam, juga tidur, aku juga makan daging dan juga menikahi wanita; maka siapa yang tidak suka kepada sunahku (jalan kehidupanku) tiadalah ia termasuk umatku. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Adapun ayat-ayat atau bukti-bukti kenabian dan kerasulan yang dituntut orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad saw dijawab berulang kali dalam Al-Quran, bahwa masalah tersebut adalah wewenang Allah semata. Para rasul hanya memperlihatkan mukjizatnya dengan seizin Allah.
Mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw adalah Al-Quran yang membawa ajaran-ajaran, hukum-hukum, dan peraturan-peraturan yang berperan menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Quran senantiasa terpelihara kemurniannya dan tidak satupun makhluk yang dapat menandinginya, baik dari sisi kandungannya maupun redaksi kebahasaannya.
Ayat-ayat atau bukti-bukti dan mukjizat tidak muncul begitu saja, melainkan harus sesuai dengan hikmah Allah dan selaras dengan masanya. Masing-masing masa tersebut mempunyai ciri tersendiri yang telah ditetapkan Allah. Setiap peristiwa yang terjadi di alam ini mengikuti ketentuan atau takdir-Nya, baik mengenai waktu, tempat, cara, maupun sebab-sebab terjadinya. Mukjizat tidak akan muncul sebelum waktu yang telah ditetapkan Allah. Ajal seseorang, rezeki, dan peristiwa-peristiwa yang dialami di dunia dan di akhirat terjadi sesuai dengan ketentuan Allah. Manusia tidak dapat meminta agar ajalnya datang lebih cepat ataupun lebih lambat dari apa yang telah ditetapkan Allah dalam takdir-Nya.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Kata per kata
وَلَقَدۡ
walaqad
And certainly
أَرۡسَلۡنَا
arsalnā
We sent
رُسُلٗا
rusulan
Messengers
مِّن
min
from
قَبۡلِكَ
qablika
before you
وَجَعَلۡنَا
wajaʿalnā
and We made
لَهُمۡ
lahum
for them
أَزۡوَٰجٗا
azwājan
wives
وَذُرِّيَّةٗۚ
wadhurriyyatan
and offspring
وَمَا
wamā
And not
كَانَ
kāna
was
لِرَسُولٍ
lirasūlin
for a Messenger
أَن
an
that
يَأۡتِيَ
yatiya
he comes
بِـَٔايَةٍ
biāyatin
with a sign
إِلَّا
illā
except
بِإِذۡنِ
bi-idh'ni
by the leave
ٱللَّهِۗ
l-lahi
(of) Allah
لِكُلِّ
likulli
For everything
أَجَلٖ
ajalin
(is) a time
كِتَابٞ
kitābun
prescribed