Surah 76 · 76:3
Surah Al-Insan 76:3
Al-Insan · The Man
إِ
Inna hadaynahu assabeelaimma shakiran wa-imma kafoora
Indeed, We guided him to the way, be he grateful or be he ungrateful.
Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Which was revealed in Makkah
The Recitation of Surat As-Sajdah and Al-Insan in the Morning Prayer on Friday
It has been mentioned previously that it is recorded in Sahih Muslim from Ibn `Abbas that the Messenger of Allah ﷺ used to recite in the Morning prayer on Friday:
الم تَنزِيلَ
(Alif Lam Mim. The revelation...)(32) and;
هَلْ أَتَى عَلَى الإِنسَـنِ
(Has there not been over man...) (76)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ
In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.
Allah created Man after He did not exist
Allah informs that He brought man into existence after he was not even a thing worth mentioning, due to his lowliness and weakness. Allah says,
هَلْ أَتَى عَلَى الإِنسَـنِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئاً مَّذْكُوراً
(Has there not been over man a period of time, when he was not a thing worth mentioning) Then Allah explains this by saying,
إِنَّا خَلَقْنَا الإِنسَـنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ
(Verily, We have created man from Nutfah Amshaj,) meaning, mixed. The words Mashaj and Mashij mean something that is mixed together. Ibn `Abbas said concerning Allah's statement,
مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ
(from Nutfah Amshaj,) "This means the fluid of the man and the fluid of the woman when they meet and mix." Then man changes after this from stage to stage, condition to condition and color to color. `Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan and Ar-Rabi` bin Anas all made statements similar to this. They said, "Amshaj is the mixing of the man's fluid with the woman's fluid." Concerning Allah's statement,
نَّبْتَلِيهِ
(in order to try him,) means, `We test him.' It is similar to Allah's statement,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
(That He may test you which of you is best in deed.) (67:2) Then Allah says,
فَجَعَلْنَـهُ سَمِيعاً بَصِيراً
(so, We made him hearer and seer.) meaning, `We gave him the faculties of hearing and sight so that he would be able to use them for obedience and disobedience.'
Allah guided Him to the Path, so Man is either Grateful or Ungrateful
Allah says,
إِنَّا هَدَيْنَـهُ السَّبِيلَ
(Verily, We guided to him the way,) meaning, `We explained it to him, made it clear to him and showed it to him.' This is as Allah says,
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَـهُمْ فَاسْتَحَبُّواْ الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
(And as for Thamud, We guided them but they preferred blindness to guidance.) (41:17) Allah also said,
وَهَدَيْنَـهُ النَّجْدَينِ
(And We guided him to the two ways.) (90:10) meaning, `We explained to him the path of good and the path of evil.' This is the statement of `Ikrimah, `Atiyah, Ibn Zayd and Mujahid from what is well-known from him and the majority. Allah then says,
إِمَّا شَاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً
(Whether he be grateful or ungrateful.) This is his decree. Thus, with this he is either wretched or happy. This is like what has been recorded by Muslim in a Hadith from Abu Malik Al-Ash`ari. He said that the Messenger of Allah ﷺ said,
«كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ، فَمُوبِقُهَا أَوْ مُعْتِقُهَا»
(All of mankind wakes up in the morning the merchant of his own soul. So he either imprisons it or sets it free. )
Tafsir Kemenag RI
Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah telah menunjukkan manusia ke jalan yang lurus. Di antara mereka ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad, manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan jalan yang sesat. Allah menunjukkan kepadanya kebaikan dan kejahatan.
Dari perkataan sabil yang terdapat dalam ayat ini, tergambar keinginan Allah terhadap manusia yakni membimbing mereka kepada hidayah-Nya. Kata sabil lebih tepat diartikan sebagai petunjuk daripada jalan. Hidayah itu berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kenabian yang disebutkan dalam kitab suci.
Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti wujud-Nya melalui penglihatan terhadap diri mereka sendiri dan alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya.
Akan tetapi, memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur, tetapi ada pula yang ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin, dan ada pula yang kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya antara dua alternatif yang tersedia. Pada ayat lain disebutkan:
Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (al-Mulk/67: 2)
Firman Allah:
Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu. (Muhammad/47: 31)
Bahwa manusia diciptakan atas fitrah dan hidayah-Nya terlebih dahulu, baru kemudian datang godaan untuk mengingkari Allah, disebutkan dalam suatu ayat:
¦(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. (ar-Rum/30: 30)
Dalam suatu hadis disebutkan:
Tiada seorang pun yang keluar (rumah), kecuali di tangannya ada dua bendera: bendera (yang satu) di tangan malaikat dan bendera (yang lain) di tangan setan. Jika seseorang keluar karena mengharapkan apa yang dicintai atau disenangi Allah, niscaya ia diikuti oleh malaikat dengan benderanya. Ia senantiasa berada di bawah bendera malaikat sampai ia kembali ke rumahnya. Dan jika seseorang keluar karena mencari apa yang dimurkai Allah, niscaya ia diikuti oleh setan dengan benderanya. Ia senantiasa berada di bawah bendera setan sampai ia kembali ke rumahnya. (Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah)
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Kata per kata
إِنَّا
innā
Indeed, We
هَدَيۡنَٰهُ
hadaynāhu
guided him
ٱلسَّبِيلَ
l-sabīla
(to) the way
إِمَّا
immā
whether
شَاكِرٗا
shākiran
(he) be grateful
وَإِمَّا
wa-immā
and whether
كَفُورًا
kafūran
(he) be ungrateful