Surah 31 · 31:12
Surah Luqman 31:12
Luqman · Luqman
وَلَقَ
Walaqad atayna luqmanaalhikmata ani oshkur lillahi waman yashkur fa-innamayashkuru linafsihi waman kafara fa-inna Allaha ghaniyyun hameed
And We had certainly given Luqmān wisdom [and said], "Be grateful to Allāh." And whoever is grateful is grateful for [the benefit of] himself. And whoever denies [His favor] - then indeed, Allāh is Free of need and Praiseworthy.
Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji."
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Luqman
The Salaf differed over the identity of Luqman; there are two opinions: was he a Prophet or just a righteous servant of Allah without the prophethood The majority favored the latter view, that he was a righteous servant of Allah without being a Prophet. Sufyan Ath-Thawri said, narrating from Al-Ash`ath, from `Ikrimah, from Ibn `Abbas, "Luqman was an Ethiopian slave who was a carpenter. `Abdullah bin Az-Zubayr said, "I said to Jabir bin `Abdullah: `What did you hear about Luqman' He said: `He was short with a flat nose, and came from Nubia."' Yahya bin Sa`id Al-Ansari narrated from Sa`id bin Al-Musayyib that "Luqman was from the black peoples of (southern) Egypt, and had thick lips. Allah gave him wisdom but withheld prophethood from him." Al-`Awza`i said, "`Abdur-Rahman bin Harmalah told me; `A black man came to Sa`id bin Al-Musayyib to ask him a question, and Sa`id bin Al-Musayyib said to him: "Do not be upset because you are black, for among the best of people were three who were black: Bilal, Mahja` the freed slave of `Umar bin Al-Khattab, and Luqman the Wise, who was a black Nubian with thick lips." Ibn Jarir recorded that Khalid Ar-Raba`i said: "Luqman was an Ethiopian slave who was a carpenter. His master said to him, `Slaughter this sheep for us,' so he slaughtered it. His master said: `Bring the best two pieces from it,' so he brought out the tongue and the heart. Then time passed, as much as Allah willed, and his master said: `Slaughter this sheep for us,' so he slaughtered it. His master said, `Bring the worst two morsels from it,' so he brought out the tongue and the heart. His master said to him, `I told you to bring out the best two pieces, and you brought these, then I told you to bring out the worst two pieces, and you brought these!' Luqman said, `There is nothing better than these if they are good, and there is nothing worse than these if they are bad."' Shu`bah narrated from Al-Hakam, from Mujahid, "Luqman was a righteous servant, but he was not a Prophet." Allah's saying:
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ(And indeed We bestowed upon Luqman Al-Hikmah) means, understanding, knowledge and eloquence.
أَنِ اشْكُرْ للَّهِ(saying: "Give thanks to Allah.") means, `We commanded him to give thanks to Allah for the blessings and favors that Allah had given to him alone among his people and contemporaries.' Then Allah says:
وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ(And whoever gives thanks, he gives thanks for (the good of) himself.) meaning, the benefit of that will come back to him, and Allah's reward is for those who give thanks, as He says:
وَمَنْ عَمِلَ صَـلِحاً فَلاًّنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ(and whosoever does righteous good deeds, then such will prepare a good place for themselves. ) (30:44)
وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ(And whoever is unthankful, then verily, Allah is Rich, Worthy of all praise.) He has no need of His servants and He will not be harmed by that, even if all the people of the earth were to disbelieve, for He has no need of anything or anyone besides Himself. There is no God but He, and we worship none but Him.
Tafsir Kemenag RI
Ayat ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada Lukman hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran, dan kearifan yang dapat menyampaikannya kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar menuju kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya nikmat itu. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan dan ajaran-ajaran yang disampaikan Lukman itu bukanlah berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, tetapi semata-mata berdasarkan ilmu dan hikmah yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.
Berdasarkan riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Ibnu Jarir ath-thabari, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi hatim dari Ibnu 'Abbas bahwa Lukman adalah seorang hamba/budak dan tukang kayu dari Habasyah. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Lukman adalah seorang yang arif, bijak, dan bukan nabi.
Banyak riwayat yang menerangkan asal-usul Lukman ini, dan riwayat-riwayat itu antara yang satu dengan yang lain tidak ada kesesuaian. Said bin Musayyab mengatakan bahwa Lukman berasal dari Sudan, sebelah selatan Mesir. Zamakhsyari dan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Lukman termasuk keturunan Bani Israil dan salah seorang cucu Azar, ayah Ibrahim. Menurut pendapat ini, Lukman hidup sebelum kedatangan Nabi Daud. Sedang menurut al-Waqidi, ia salah seorang qadhi Bani Israil. Ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Lukman hanyalah seorang yang sangat saleh (wali), bukan seorang nabi.
Terlepas dari semua pendapat riwayat di atas, apakah Lukman itu seorang nabi atau bukan, apakah ia orang Sudan atau keturunan Bani Israil, maka yang jelas dan diyakini ialah Lukman adalah seorang hamba Allah yang telah dianugerahi hikmah, mempunyai akidah yang benar, memahami dasar-dasar agama Allah, dan mengetahui akhlak yang mulia. Namanya disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah seorang yang selalu menghambakan diri kepada-Nya.
Sebagai tanda bahwa Lukman itu seorang hamba Allah yang selalu taat kepada-Nya, merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini adalah sikapnya yang selalu bersyukur kepada Allah. Ia merasa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah itu dan merasa dia telah mendapat hikmah dari-Nya.
Menurut riwayat dari Ibnu 'Umar bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Lukman bukanlah seorang nabi, tetapi ia adalah seorang hamba yang banyak melakukan tafakur, ia mencintai Allah, maka Allah mencintainya pula."
Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah, berarti ia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebab, Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang banyak karena syukurnya itu. Allah berfirman:
Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia. (an-Naml/27: 40)
Sufyan bin Uyainah berkata, "Siapa yang melakukan salat lima waktu berarti ia bersyukur kepada Allah, dan orang yang berdoa untuk kedua orang tuanya setiap usai salat, ia telah bersyukur kepada keduanya."
Orang-orang yang mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya berarti ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena Allah tidak akan memberinya pahala bahkan menyiksanya dengan siksaan yang pedih. Allah sendiri tidak memerlukan syukur hamba-Nya karena syukur hamba-Nya itu tidak akan memberikan keuntungan kepada-Nya sedikit pun, dan tidak pula akan menambah kemuliaan-Nya. Dia Mahakuasa lagi Maha Terpuji.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
وَلَقَدۡ
walaqad
And verily
ءَاتَيۡنَا
ātaynā
We gave
لُقۡمَٰنَ
luq'māna
Luqman
ٱلۡحِكۡمَةَ
l-ḥik'mata
the wisdom
أَنِ
ani
that
ٱشۡكُرۡ
ush'kur
Be grateful
لِلَّهِۚ
lillahi
to Allah
وَمَن
waman
And whoever
يَشۡكُرۡ
yashkur
(is) grateful
فَإِنَّمَا
fa-innamā
then only
يَشۡكُرُ
yashkuru
he is grateful
لِنَفۡسِهِۦۖ
linafsihi
for himself
وَمَن
waman
And whoever
كَفَرَ
kafara
(is) ungrateful
فَإِنَّ
fa-inna
then indeed
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
غَنِيٌّ
ghaniyyun
(is) Free of need
حَمِيدٞ
ḥamīdun
Praiseworthy