Surah 30 · 30:35
Surah Ar-Rum 30:35
Ar-Rum · The Romans
أَمْ أَ
Am anzalna AAalayhim sultananfahuwa yatakallamu bima kanoo bihi yushrikoon
Or have We sent down to them an authority [i.e., a proof or scripture], and it speaks of what they have been associating with Him?
Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, yang menjelaskan (membenarkan) apa yang (selalu) mereka persekutukan dengan Tuhan?
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
How man sways between Tawhid and Shirk, and between Joy and Despair, according to His Circumstances
Allah tells us that when man is in dire straits, he calls upon Allah alone with no partner or associate, then when times of ease come and they have the choice, some people associate others with Allah and worship others alongside Him.
لِيَكْفُرُواْ بِمَآ ءاتَيْنَـهُمْ(So as to be ungrateful for the graces which We have bestowed on them.) Then Allah warns them by saying:
فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ(but you will come to know.) One of them said: By Allah, if a law enforcment officer were to say this to me, I would be afraid, so how about when the One Who is issuing the warning is the One Who merely says to a thing "Be!" and it is Then Allah denounces the idolators for fabricating lies and worshipping others instead of Him with no evidence or proof:
أَمْ أَنزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَـناً(Or have We revealed to them an authority,) means, proof.
فَهُوَ يَتَكَلَّمُ(which speaks) means, tells
بِمَا كَانُواْ بِهِ يُشْرِكُونَ(of that which they have been associating with Him) This is a rhetorical question intended to denounce them, for they have no such thing.
وَإِذَآ أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُواْ بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ(And when We cause mankind to taste of mercy, they rejoice therein; but when some evil afflicts them because of what their hands have sent forth, behold, they are in despair!) This is a denunciation of man for the way he is, except for those whom Allah protects and helps, for when man is given blessings, he is proud, and says:
ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ("Ills have departed from me." Surely, he is exultant, and boastful.) (11:10) He rejoices over himself and boasts to others, but when difficulties befall him, He despairs of ever having anything good again. Allah says:
إِلاَّ الَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ(Except those who show patience and do righteous good deeds). They are patient during times of difficulty and do good deeds at times of ease. It was reported in the Sahih:
«عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ لَا يَقْضِي اللهُ لَهُ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَه»(How wonderful is the affair of the believer. Allah does not decree anything for him but it is good for him. If good things happen to him, he gives thanks, and that is good for him; and if bad things happen to him, he bears that with patience, and that is good for him.)
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ(Do they not see that Allah expands the provision for whom He wills and straitens (it for whom He wills).) He is the One Who is controlling and doing that, by His wisdom and justice, so He expands the provision for some people and restricts it for some.
إِنَّ فِى ذلِكَ لآيَـتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ(Verily, in that are indeed signs for a people who believe.)
Tafsir Kemenag RI
Selanjutnya Allah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik itu memiliki sulthan (hujjah atau landasan) yang bersumber dari Allah yang dapat membenarkan perbuatan syirik mereka. Suatu akidah yang benar harus memiliki landasan yang benar.
Sulthan secara harfiah berarti "kekuatan nyata yang tidak dapat dibantah". Maksudnya adalah sebuah kitab suci dan seorang rasul dari Allah. Suatu kepercayaan hanya dapat disebut agama bila memiliki unsur-unsur itu di samping Tuhan. Kepercayaan syirik orang kafir Quraisy itu tidak didasarkan atas wahyu dan tidak diajarkan oleh seorang nabi dari Allah. Berarti kepercayaan itu salah.
Dengan demikian, ungkapan dalam bentuk pertanyaan ayat itu sekali lagi maksudnya adalah pengingkaran atau penolakan. Diungkapkan demikian supaya tajam masuknya ke dalam hati manusia. Akidah syirik itu sesat karena tidak ada dasarnya, tidak pernah diajarkan Allah, tidak pernah disampaikan rasul-Nya, dan tidak terdapat di dalam kitab suci-Nya. Oleh karena itu, akidah syirik itu akan diperiksa Allah secara ketat dan penganutnya tidak akan lolos dari hukuman-Nya, sebagaimana dinyatakan ayat berikut:
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. (al-Mu'minun/23: 117)
(36) Perilaku kedua yang dapat mengantarkan manusia kepada kesyirikan adalah bila mereka diberi rahmat sedikit saja oleh Allah, mereka lupa daratan. Akan tetapi, bila ditimpa kemalangan sedikit saja, mereka putus asa lalu ingkar.
Dalam ayat ini, Allah juga menyatakan "mencicipkan" yang berarti bahwa yang dikaruniakan itu hanya sedikit. Karunia itu antara lain berupa harta benda. Oleh karena itu, bagaimana pun banyak harta, itu tidak ada bandingannya dengan kebahagiaan yang akan diberikan-Nya di akhirat. Akan tetapi, sebagian manusia ada yang terlena dengan karunia Allah di dunia itu, lalu lupa daratan. Mereka mengingkari Allah, dan tidak mempedulikan lagi semua perintah dan larangan-Nya. Mereka mau mengorbankan kebahagiaan mereka yang abadi di akhirat itu hanya dengan kenikmatan yang tidak berarti dan sementara di dunia. Akibatnya, mereka akan diazab kelak di akhirat.
Sebaliknya, bila mereka mendapat penderitaan yang diakibatkan kesalahan mereka sendiri, mereka cepat putus asa. Potongan ayat ini mengisyaratkan bahwa dunia itu tidak selamanya menyenangkan, tetapi akan diselingi kesusahan. Senang dan susah itu memang dipergilirkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:
¦Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan¦. (al-Anbiya'/21: 35)
Oleh karena itu, manusia tidak boleh cepat terlena bila memperoleh nikmat dan tidak boleh cepat putus asa bila mendapat kesusahan.
Dalam ayat ini dinyatakan bahwa mereka putus asa karena perbuatan tangan mereka sendiri. Itu berarti bahwa mereka melakukan kesalahan itu dengan sengaja. Seharusnya mereka mengakui kesalahan itu dan cepat bertobat. Tetapi tidak demikian, mereka menjauh dari Allah dan tidak minta tolong kepada-Nya. Karena merasa tidak mampu menghadapi kesusahan itu, mereka putus asa dan bersikap pesimis. Dengan demikian, mereka melawan fitrahnya, karena orang yang berdiri di atas fitrah adalah yang selalu mendekatkan diri kepada Allah (lihat ayat 31 di atas) dan selalu bersikap optimis.
Prilaku itu dilukiskan dalam ayat lain:
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh-kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma'arij/70: 19-22)
Dalam ayat-ayat itu diterangkan bahwa prilaku tidak sabar, gelisah, dan kikir itu adalah sifat sebagian manusia, tidak semuanya. Mereka yang konsisten dalam melaksanakan salat tidak akan berprilaku demikian, karena setiap waktu mereka berkomunikasi dengan Allah. Dengan demikian, mereka tidak akan kehilangan akal ketika mendapat kesusahan dan tidak akan lupa daratan ketika menerima nikmat. Mereka sabar ketika mendapat kesulitan, dan bersyukur ketika memperoleh kebahagiaan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut:
Aneh keadaan orang Mukmin, Allah tidak akan memutuskan sesuatu keputusan kecuali hal itu baik baginya. Jika dia ditimpa kegembiraan dia berterima kasih, hal itu adalah baik baginya. Jika dia ditimpa kemalangan dia bersabar, hal itu adalah baik baginya. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari suhaib)
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
أَمۡ
am
Or
أَنزَلۡنَا
anzalnā
have We sent
عَلَيۡهِمۡ
ʿalayhim
to them
سُلۡطَٰنٗا
sul'ṭānan
an authority
فَهُوَ
fahuwa
and it
يَتَكَلَّمُ
yatakallamu
speaks
بِمَا
bimā
of what
كَانُواْ
kānū
they were
بِهِۦ
bihi
with Him
يُشۡرِكُونَ
yush'rikūna
associating