Surah 16 · 16:90
Surah An-Nahl 16:90
An-Nahl · The Bee
۞ إِ
Inna Allaha ya/muru bilAAadliwal-ihsani wa-eeta-i theealqurba wayanha AAani alfahsha-i walmunkariwalbaghyi yaAAithukum laAAallakum tathakkaroon
Indeed, Allāh orders justice and good conduct and giving [help] to relatives and forbids immorality and bad conduct and oppression. He admonishes you that perhaps you will be reminded.
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
The Command to be Fair and Kind
Allah tells us that He commands His servant to be just, i.e., fair and moderate, and that He encourages kindness and good treatment. As He says:
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّـبِرينَ
(And if you punish them, then punish them with the like of that with which you were afflicted. But if you have patience with them, then it is better for those who are patient.) (16:126)
وَجَزَآءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
(The recompense for an offense is an offense the like thereof; but whoever forgives and makes reconciliation, his reward is with Allah.) 42:40
وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ
(and wounds equal for equal. But if anyone remits the retaliation by way of charity, it shall count as atonement for him.) 5:45 And there are other Ayat which support the institution of justice in Islam, as well as encouraging a fair and generous attitude.
The Command to maintain the Ties of Kinship and the prohibition of Immoral Sins, Evil and Tyranny
وَإِيتَآءِ ذِى الْقُرْبَى
(and giving (help) to relatives,) meaning that Allah is commanding us to uphold the ties of kinship, as He says:
وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
(And give the relative his due and to the poor and to the wayfarer. But do not spend wastefully in the manner of a spendthrift.) (17:26)
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
(and He forbids immoral sins, and evil) Fahsha' refers to all things that are forbidden, and Munkar refers to those forbidden deeds that are committed openly by the one who does them. Hence Allah says elsewhere:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
(Say (O Muhammad): "(But) the things that my Lord has indeed forbidden are the indecencies, whether committed openly or secretly) (7:33) Baghy refers to aggression towards people. In a Hadith, the Prophet said:
«مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرَ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ عُقُوبَتَهُ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لِصَاحِبِهِ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِم»
(There is no sin more deserving of having its punishment hastened in this world, as well as what is reserved in the Hereafter for the one who does it, than tyrannical aggression and cutting the ties of kinship.)
يَعِظُكُمُ
(He admonishes you,) meaning, He commands what He commands you of good and He forbids what He forbids you of evil;
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
(so that perhaps you may take heed) Ash-Sha`bi reported that Shatiyr bin Shakl said: "I heard Ibn Mas`ud say: `The most comprehensive Ayah in the Qur'an is in Surat An-Nahl:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإْحْسَانِ
(Verily, Allah enjoins justice and kindness...)"' It was reported by Ibn Jarir.
The Eyewitness Account of `Uthman
Concerning the revelation of this Ayah, Imam Ahmad reported a Hasan Hadith from `Abdullah bin `Abbas who said: "While the Messenger of Allah ﷺ was sitting in the courtyard of his house, `Uthman bin Maz`un passed by and smiled at the Messenger of Allah ﷺ. The Messenger of Allah ﷺ said to him,
«أَلَا تَجْلِسُ؟»
(Won't you sit down) He said, `Certainly.' So the Messenger of Allah ﷺ sat facing him, and while they were talking, the Messenger of Allah ﷺ began looking up at the sky, looking at it for a while, then he brought his gaze down until he was looking at the ground to his right. Then the Messenger of Allah ﷺ turned slightly away from his companion `Uthman to where he was looking. Then he began to tilt his head as if trying to understand something, and Ibn Maz`un was looking on. When the matter was finished and he had understood what had been said to him, the Messenger of Allah ﷺ stared at the sky again as he had the first time, looking at whatever he could see until it disappeared. Then he turned back to face `Uthman again. `Uthman said, `O Muhammad, I have never seen you do anything like you did today while I was sitting with you.' The Messenger of Allah ﷺ said:
«وَمَا رَأَيْتَنِي فَعَلْتُ؟»
(What did you see me do) `Uthman said: `I saw you staring at the sky, then you lowered your gaze until you were looking to your right, then you turned to him and left me. Then you tilted your head as if you were trying to understand something that was being said to you.' The Messenger of Allah ﷺ said,
«وَفَطِنْتَ لِذَلِكَ؟»
(Did you notice that) `Uthman said, `Yes'. The Messenger of Allah ﷺ said:
«أَتَانِي رَسُولُ اللهِ آنِفًا وَأَنْتَ جَالِس»
(A messenger from Allah came to me just now, when you were sitting here.) `Uthman said, `A messenger from Allah' The Messenger of Allah ﷺ said,
«نَعَم»
(Yes.) `Uthman said, `And what did he say to you' The Messenger of Allah ﷺ said:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإْحْسَانِ
(Verily, Allah orders justice and kindness...) `Uthman said: `That was when faith was established in my heart and I began to love Muhammad ." It is a Hasan Hadith having a good connected chain of narrators in which their hearing it from each other is clear.
Tafsir Kemenag RI
Allah swt memerintahkan kaum Muslimin untuk berbuat adil dalam semua aspek kehidupan serta melaksanakan perintah Al-Qur'an, dan berbuat ihsan (keutamaan). Adil berarti mewujudkan kesamaan dan keseimbangan di antara hak dan kewajiban. Hak asasi tidak boleh dikurangi disebabkan adanya kewajiban. Ayat ini termasuk ayat yang sangat luas dalam pengertiannya. Ibnu Mas'ud berkata:
Dan ayat paling luas lingkupnya dalam Al-Qur'an tentang kebaikan dan kejahatan ialah ayat dalam Surah An-Nahl (yang artinya): "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan". (Riwayat Bukhari dari Ibnu Masud dalam kitab al-Adab al-Mufrad)
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah bahwa Nabi Muhammad saw membacakan ayat ini kepada al-Walid. "Ulang kembali hai saudaraku," kata al-Walid, maka Rasul saw mengulang kembali membaca ayat itu. Lalu al-Walid berkata, "Demi Allah sungguh Al-Qur'an ini memiliki kelezatan dan keindahan, di atasnya berbuah, di bawahnya berakar, dan bukanlah dia kata-kata manusia.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang semula kurang senang kepada Rasul saw. Sewaktu dibacakan kepadanya ayat ini oleh Rasul saw, maka iman dalam jiwanya menjadi teguh dan dia menjadi sayang kepada Nabi saw.
Pada ayat ini disebutkan tiga perintah dan tiga larangan. Tiga perintah itu ialah berlaku adil, berbuat kebajikan (ihsan), dan berbuat baik kepada kerabat. Sedangkan tiga larangan itu ialah berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.
Kezaliman lawan dari keadilan, sehingga wajib dijauhi. Hak setiap orang harus diberikan sebagaimana mestinya. Kebahagiaan barulah dirasakan oleh manusia bilamana hak-hak mereka dijamin dalam masyarakat, hak setiap orang dihargai, dan golongan yang kuat mengayomi yang lemah. Penyimpangan dari keadilan adalah penyimpangan dari sunnah Allah dalam menciptakan alam ini. Hal ini tentulah akan menimbulkan kekacauan dan kegoncangan dalam masyarakat, seperti putusnya hubungan cinta kasih sesama manusia, serta tertanamnya rasa dendam, kebencian, iri, dengki, dan sebagainya dalam hati manusia.
Semua yang disebutkan itu akan menimbulkan permusuhan yang menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu, agama Islam menegakkan dasar-dasar keadilan untuk memelihara kelangsungan hidup masyarakat. Dalam Al-Qur'an banyak ditemukan ayat-ayat yang turun di Mekah maupun di Medinah, yang memerintahkan manusia berbuat adil dan melarang kezaliman. Di antaranya adalah:
Firman Allah swt:
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (al-Ma'idah/5: 8)
Allah swt menetapkan keadilan sebagai landasan umum bagi kehidupan masyarakat untuk setiap bangsa di segala zaman. Keadilan merupakan tujuan dari pengutusan rasul-rasul ke dunia serta tujuan dari syariat dan hukum yang diturunkan kepada mereka.
Firman Allah swt:
Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (al-hadid/57: 25)
Menurut Mahmud Syaltut, Allah swt menyebutkan besi dalam rangkaian pembinaan keadilan, mengandung isyarat yang kuat dan jelas bahwa pembinaan dan pelaksanaan keadilan adalah ketentuan Ilahi yang wajib dikerjakan. Para pelaksananya dapat mempergunakan kekuatan yang dibenarkan Tuhan, seperti dengan peralatan besi (senjata) yang punya daya kekuatan yang dahsyat.
Adapun macam-macam keadilan yang dikemukakan oleh Islam antara lain sebagai berikut:
Pertama: Keadilan dalam Kepercayaan
Menurut Al-Qur'an kepercayaan syirik itu suatu kezaliman. Sebagaimana firman Allah swt:
Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Luqman/31: 13)
Mengesakan Tuhan adalah suatu keadilan, sebab hanya Dialah yang menjadi sumber hidup dan kehidupan. Dia memberi nikmat lahir dan batin. Segala ibadah, syukur, dan pujian hanya untuk Allah swt. Mengarahkan ibadah dan pujian kepada selain Allah adalah perbuatan yang tidak adil atau suatu kezaliman. Hak manusia mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah, karena itu manusia berkewajiban mengesakan Allah dalam itikad dan ibadah.
Kedua: Keadilan dalam Rumah Tangga
Rumah tangga merupakan bagian dari masyarakat. Bilamana rumah tangga sejahtera, masyarakat pun akan sejahtera dan negara akan kuat.
Dari rumah tangga yang baik lahir individu-individu yang baik pula. Oleh karena itu, Islam menetapkan peraturan-peraturan dalam pembinaan rumah tangga yang cukup luwes dan sempurna. Keadilan tidak hanya mendasari ketentuan-ketentuan formal yang menyangkut hak dan kewajiban suami istri, tetapi juga keadilan mendasari hubungan kasih sayang dengan istri.
Ketiga: Keadilan dalam Perjanjian
Dalam memenuhi kebutuhan hidup, setiap orang ataupun bangsa pasti memerlukan bantuan orang lain. Tolong-menolong dan bantu-membantu sesama manusia dalam usaha mencapai kebutuhan masing-masing merupakan ciri kehidupan kemanusiaan. Agama Islam memberikan tuntunan dalam menyelenggarakan hidup tolong-menolong itu. Umpamanya dalam soal muamalah, seperti utang piutang, jual beli, sewa menyewa, dan sebagainya, dengan suatu perjanjian, Islam memerintahkan agar perjanjian itu ditulis.
Firman Allah swt:
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. ¦ Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan¦. (al-Baqarah/2: 282)
Pada persaksian yang banyak terjadi dalam perjanjian-perjanjian, Islam menetapkan pula adanya keadilan. Keadilan dalam persaksian ialah melaksanakannya secara jujur isi kesaksian itu tanpa penyelewengan dan pemalsuan.
Firman Allah swt:
¦Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa)¦. (al-Baqarah/2: 283)
Firman Allah swt:
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu¦. (an-Nisa'/4: 135)
Keempat : Keadilan dalam Hukum
Dalam Islam semua manusia sama di hadapan Tuhan, tidak ada perbedaan orang kulit putih dan kulit hitam, antara anak raja dengan anak rakyat, semua sama dalam perlakuan hukum. Melaksanakan keadilan hukum dipandang oleh Islam sebagai melaksanakan amanat.
Firman Allah swt:
Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil¦. (an-Nisa'/4: 58)
Hadis Nabi saw:
Sesungguhnya kehancuran umat sebelummu karena jika orang terpandang yang mencuri mereka tidak menghukumnya, namun jika orang lemah yang mencuri, mereka menghukumnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya. (Riwayat Muslim)
Di samping berlaku adil, Allah swt memerintahkan pula berbuat ihsan seperti membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih baik/besar atau memaafkan orang lain.
Firman Allah:
Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (peng-hormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu. (an-Nisa'/4: 86)
Al-Ihsan terbagi dalam tiga kategori:
1.Al-Ihsan dalam ibadah: engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.
Hadis Nabi Muhammad saw:
Ihsan itu ialah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah)
2.Al-Ihsan dalam balasan dan sanksi dengan seimbang, dan menyempurna-kan hak dalam pembunuhan dan luka dengan qisas.
3.Al-Ihsan dalam menepati hak atau hutang dengan membayarnya tanpa mengulur waktu, atau disertai tambahan yang tidak bersyarat.
Tingkat al-ihsan yang tertinggi ialah berbuat kebaikan terhadap orang yang bersalah. Diriwayatkan bahwa Isa a.s. pernah berkata, "Sesungguhnya al-ihsan itu ialah kamu berbuat baik kepada orang yang bersalah terhadapmu. Bukanlah al-ihsan bila kamu berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu."
Allah swt memerintahkan pula dalam ayat ini untuk memberikan sedekah kepada kerabat untuk kebutuhan mereka. Bersedekah kepada kerabat sebenarnya sudah termasuk dalam pengakuan berbuat adil dan al-ihsan. Namun disebutkan secara khusus untuk memberikan pengertian bahwa urusan memberikan bantuan kepada kerabat hendaklah diperhatikan dan diutamakan.
Sesudah menerangkan ketiga perkara yang diperintahkan kepada umat manusia, Allah swt meneruskan dengan menerangkan tiga perkara lagi yang harus ditinggalkan.
Pertama:Melarang berbuat keji (fahisyah), yaitu perbuatan-perbuatan yang didasarkan pada pemuasan hawa nafsu seperti zina, minuman-minuman yang memabukkan, dan mencuri.
Kedua:Melarang berbuat mungkar yaitu perbuatan yang buruk yang berlawanan dengan pikiran yang waras, seperti membunuh dan merampok hak orang lain.
Ketiga:Melarang permusuhan yang sewenang-wenang terhadap orang lain.
Demikianlah dalam ayat ini, Allah swt memerintahkan tiga perkara yang harus dikerjakan, yaitu berbuat adil, al-ihsan, dan mempererat persaudaraan. Allah juga melarang tiga perkara, yaitu berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.
Semua itu merupakan pengajaran kepada manusia yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, maka sewajarnya mereka mengamalkannya.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
۞ إِنَّ
inna
Indeed
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
يَأۡمُرُ
yamuru
commands
بِٱلۡعَدۡلِ
bil-ʿadli
justice
وَٱلۡإِحۡسَٰنِ
wal-iḥ'sāni
and the good
وَإِيتَآيِٕ
waītāi
and giving
ذِي
dhī
(to) relatives
ٱلۡقُرۡبَىٰ
l-qur'bā
(to) relatives
وَيَنۡهَىٰ
wayanhā
and forbids
عَنِ
ʿani
[from]
ٱلۡفَحۡشَآءِ
l-faḥshāi
the immorality
وَٱلۡمُنكَرِ
wal-munkari
and the bad
وَٱلۡبَغۡيِۚ
wal-baghyi
and the oppression
يَعِظُكُمۡ
yaʿiẓukum
He admonishes you
لَعَلَّكُمۡ
laʿallakum
so that you may
تَذَكَّرُونَ
tadhakkarūna
take heed