Surah 17 · 17:44

Surah Al-Isra 17:44

Al-Isra · The Night Journey

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ‌ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ‌ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Tusabbihu lahu assamawatuassabAAu wal-ardu waman feehinna wa-in minshay-in illa yusabbihu bihamdihi walakinla tafqahoona tasbeehahum innahu kana haleemanghafoora

The seven heavens and the earth and whatever is in them exalt Him. And there is not a thing except that it exalts [Allāh] by His praise, but you do not understand their [way of] exalting. Indeed, He is ever Forbearing and Forgiving.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.

SurahAl-Isra
Juz15
Page286
Revelationmakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

Everything glorifies Allah

Allah says: the seven heavens and the earth and all that is therein, meaning the creatures that dwell therein, sanctify Him, exalt Him, venerate Him, glorify Him and magnify Him far above what these idolators say, and they bear witness that He is One in His Lordship and Divinity. In everything there is a sign of Allah indicating that He is One. As Allah says:

تَكَادُ السَّمَـوَتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الاٌّرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً - أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَـنِ وَلَداً

(Whereby the heavens are almost torn, and the earth is split asunder, and the mountains fall in ruins, That they ascribe child to the Most Beneficent) (19:90-91).

وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ

(and there is not a thing but glorifies His praise.) there is no created being that does not celebrate the praises of Allah.

وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

(But you understand not their glorification.) means, `You do not understand them, O mankind, because it is not like your languages.' This applies to all creatures generally, animal, inanimate and botanical. This is the better known of the two opinions according to the most reliable of two opinions. It was reported in Sahih Al-Bukhari that Ibn Mas`ud said: "We used to hear the Tasbih of the food as it was being eaten. " Imam Ahmad recorded that Mu`adh bin Anas said that the Messenger of Allah ﷺ came upon some people who were sitting on their mounts and talking to one another. He said to them:

«ارْكَبُوهَا سَالِمَةً وَدَعُوهَا سَالِمَةً، وَلَا تَتَّخِذُوهَا كَرَاسِيَّ لِأَحَادِيثِكُمْ فِي الطُّرُقِ وَالْأَسْوَاقِ، فَرُبَّ مَرْكُوبَةٍ خَيْرٌ مِنْ رَاكِبِهَا، وَأَكْثَرُ ذِكْرًااِللهِ مِنْه»

(Ride them safely then leave them safely. Do not use them as chairs for you to have conversations in the streets and marketplaces, because the one that is ridden may be better than the one who rides it, and may remember Allah more than he does.) An-Nasa'i recorded in his Sunan that `Abdullah bin `Amr said: "The Messenger of Allah ﷺ forbade us from killing frogs."

إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

(Truly, He is Ever Forbearing, Oft-Forgiving.) means, He does not hasten to punish those who disobey Him, rather He gives them time and waits, then if they persist in their stubborn Kufr, He seizes them with a punishment of the All-Mighty, All-Capable. It was recorded in the Two Sahihs that:

«إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْه»

(Allah will let the wrongdoer carry on until, when He does seize him, He will never let him go.) Then the Messenger of Allah ﷺ recited:

وَكَذلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِىَ ظَـلِمَةٌ

(Such is the punishment of your Lord when He seizes the (population of) towns while they are doing wrong. ) 11:02 Allah says:

وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِىَ ظَـلِمَةٌ

(And many a township did I give respite while it was given to wrongdoing.) 22:45 until the end of two Ayat.

فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَـهَا وَهِىَ ظَالِمَةٌ

(And many a township did We destroy while they were given to wrongdoing.) 22:48 Whoever gives up his disbelief and disobedience, and turns back to Allah in repentance, Allah will accept his repentance, as He says:

وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ

(And whoever does evil or wrongs himself but afterwards seeks Allah's forgiveness) 4:110 Here, Allah says:

إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

(Truly, He is Ever Forbearing, Oft-Forgiving.) At the end of Surah Fatir, He says:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضَ أَن تَزُولاَ وَلَئِن زَالَتَآ إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً

(Verily, Allah grasps the heavens and the earth lest they should move away from their places, and if they were to move away from their places, there is not one that could grasp them after Him. Truly, He is Ever Most Forbearing, Oft-Forgiving...) until His saying;

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ

(And if Allah were to punish men)(35:41-45)

Tafsir Kemenag RI

Kemudian Allah swt menjelaskan betapa luasnya kerajaan-Nya dan betapa tinggi kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh, bumi, dan semua makhluk yang ada di dalamnya bertasbih dan mengagungkan asma-Nya, serta me-nyaksikan bukti-bukti keesaan-Nya. Tidak ada satu makhluk pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Siapapun yang mau memperhatikan makhluk atau benda yang ada di sekelilingnya, tentu akan mengetahui bahwa baik makhluk hidup ataupun benda-benda mati seluruhnya tunduk dan takluk pada ketetapan atau ketentuan Allah yang tidak bisa dihindari.

Sebagai contoh adalah hukum gaya tarik (gravitasi). Hukum ini berlaku umum dan mempengaruhi semua benda yang ada, apakah benda itu gas, barang cair, benda padat, ataupun makhluk hidup. Semuanya terpengaruh hukum gaya tarik itu. Hal ini menunjukkan bahwa hukum gaya tarik yang mempunyai kekuatan yang begitu besar pengaruhnya tidak mungkin terjadi secara kebetulan saja, melainkan ada yang menciptakan dan mengontrolnya setiap saat. Penciptanya tentu Yang Mahaperkasa dan Mahakuasa, yaitu Allah swt.

Hukum gaya tarik ini cukup menjadi bukti bahwa semua benda dan makhluk yang ada di muka bumi ini tunduk dan takluk pada hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah. Apabila seseorang ingin melepaskan diri dari pengaruh gaya tarik (gravitasi) bumi, ia harus mempergunakan ilmu pengetahuan yang dapat melepaskan dirinya dari gaya tarik itu. Untuk menguasai ilmu itu, ia harus menguasai hukum aksi dan reaksi, yaitu aksi yang dapat mengatasi gaya tarik bumi itu, sehingga ia bisa melepaskan diri dari pengaruh kekuatannya. Keberhasilan orang melepaskan diri dari gaya tarik bumi bukan berarti bahwa ia tidak tunduk pada hukum Allah, melainkan ia dapat melepaskan dirinya lantaran tunduk pada hukum alam yang lain. Hal ini menunjukkan betapa luas kekuasaan Allah yang menciptakan hukum-hukum alam. Itupun baru hukum-hukum alam yang telah diketahui manusia, belum lagi hukum-hukum alam yang lain yang masih belum diketahui manusia.

Khusus bagi manusia, makhluk yang berakal, karena terdiri dari jasmani dan rohani, maka jasmaninya tunduk kepada hukum-hukum alam tersebut, baik dikehendaki atau tidak. Sedangkan rohaninya dituntut mengikuti bimbingan Allah yang disampaikan melalui wahyu kepada rasul-Nya.

Para ulama ahli ilmu kalam mengatakan bahwa Allah, Pencipta alam, adalah wajibul wujud (wajib ada-Nya), sedang makhluk-makhluk disebut mumkinat al-wujud (yang mungkin adanya). Al-Mumkinat ini dibagi menjadi berakal dan yang tidak berakal. Makhluk yang berakal mengakui keesaan Allah karena mereka dapat memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit, di bumi, dan pada semua benda-benda yang ada pada keduanya. Oleh karena itu, bibir manusia yang beriman selalu bertasbih memuji Allah. Sedang makhluk yang tidak berakal tunduk kepada aḥkam kauniyyah (yaitu hukum-hukum alam yang diciptakan Allah yang berlaku terhadap benda-benda alam itu). Mereka bertasbih memuji Allah dengan berperilaku sesuai dengan keadaan yang ditakdirkan bagi mereka masing-masing.

Allah lalu menjelaskan bahwa kaum musyrikin Mekah tidak mengetahui bahwa benda-benda alam dan semua makhluk yang ada bertasbih memuji-Nya, karena mereka tidak mau mengakui keesaan Allah. Bahkan, mereka mengadakan tuhan-tuhan yang lain yang dipersekutukan dengan Allah. Kaum musyrikin tidak mau melihat dan memikirkan ketundukan alam semesta dan segala benda-benda serta makhluk di bumi kepada hukum-hukum alam itu, sebagai pencerminan bagi tasbih mereka memuji Allah swt.

Melihat pada beberapa Surah Al-Qur'an (al-Baqarah/2: 29; al-An'am/6: 125), maka langit terbagi dalam tujuh lapis. Apabila kita asumsikan secara ilmiah bahwa kata "langit" di sini adalah atmosfer, langit yang paling dekat dengan bumi, dan bukan langit antariksa, maka ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini mengkonfirmasikannya.

Pembagian menjadi tujuh lapis didasarkan pada perbedaan kandungan kimia dan suhu udara yang berbeda-beda di tiap lapisan. Ketujuh lapisan tersebut dinamakan Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Thermosfer, Exosfer, Ionosfer dan Magnetosfer. Penyebutan tujuh lapis langit ini juga diungkapkan pada Surah Nuh/71: 15 dan al- Naba'/78: 12. Selanjutnya dalam Surah Fushshilat/41: 11-12 dinyatakan bawa tiap lapis langit mempunyai urusannya sendiri-sendiri. Hal ini dikonfirmasi ilmu pengetahuan, misalnya ada lapisan yang bertugas untuk membuat hujan, mencegah kerusakan akibat radiasi, memantulkan gelombang radio, sampai kepada lapisan yang mencegah agar meteor tidak merusak bumi.

Ayat ini secara simbolik menunjukkan bahwa tasbihnya benda-benda di alam secara fisik adalah kepatuhannya (secara sukarela) terhadap hukum Allah yang mengaturnya atau disebut juga dengan sunatullah. Hukum Allah itu dikenal manusia sebagai hukum alam atau kaidah ilmu pengetahuan yang diketahui manusia (para ahli) dan berlaku pada semua makhluk termasuk manusia (secara fisik).

Adapun yang dimaksud dengan "kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka" adalah sebagian besar manusia tidak mengerti sunatullah atau hukum alam yang hanya dimengerti oleh para ahlinya. Jadi hanya orang yang berakal budi dan berpengetahuanlah yang bisa mengerti hukum alam dan dengan demikian juga bisa mengerti akan tasbih dari benda-benda antara langit yang tujuh dan bumi semuanya.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa sesungguhnya Dia Maha Penyantun. Oleh karena itu, Dia tidak segera menurunkan azab atas kemusyrikan kaum musyrikin Mekah dan atas kelalaian mereka tidak mau memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah Yang Maha Pengampun. Di antara sifat-sifat kemahapengampunan Allah ialah masih membuka pintu tobat selebar-lebarnya kepada siapa saja yang meminta ampunan-Nya. Allah tidak akan menghukum mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan, jika bertobat dan menyesali perbuatan mereka dengan penyesalan yang sebenar-benarnya, betul-betul menghentikan kemusyrikan, kembali kepada agama tauhid, dan mengikuti bimbingan wahyu yang diturunkan kepada rasul-Nya.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

تُسَبِّحُ

tusabbiḥu

Glorify

لَهُ

lahu

[to] Him

ٱلسَّمَٰوَٰتُ

l-samāwātu

the seven heavens

ٱلسَّبۡعُ

l-sabʿu

the seven heavens

وَٱلۡأَرۡضُ

wal-arḍu

and the earth

وَمَن

waman

and whatever

فِيهِنَّۚ

fīhinna

(is) in them

وَإِن

wa-in

And (there is) not

مِّن

min

any

شَيۡءٍ

shayin

thing

إِلَّا

illā

except

يُسَبِّحُ

yusabbiḥu

glorifies

بِحَمۡدِهِۦ

biḥamdihi

His Praise

وَلَٰكِن

walākin

but

لَّا

not

تَفۡقَهُونَ

tafqahūna

you understand

تَسۡبِيحَهُمۡۚ

tasbīḥahum

their glorification

إِنَّهُۥ

innahu

Indeed, He

كَانَ

kāna

is

حَلِيمًا

ḥalīman

Ever-Forbearing

غَفُورٗا

ghafūran

Oft-Forgiving