Surah 15 · 15:21
Surah Al-Hijr 15:21
Al-Hijr · The Rocky Tract
وَإ
Wa-in min shay-in illa AAindanakhaza-inuhu wama nunazziluhu illa biqadarinmaAAloom
And there is not a thing but that with Us are its depositories, and We do not send it down except according to a known [i.e., specified] measure.
Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
The Supplies for All Things are with Allah
Allah tells us that He is the Owner of all things, and that everything is easy for Him. He has the supplies for all things with Him.
وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ(and We do not send it down but in a known measure.) meaning, as He wills and as He wants. Doing so out of His great wisdom and mercy towards His servants, in a way that He is under no obligation to do. But He has decreed mercy for Himself. Yazid bin Abi Ziyad reported from Abu Juhayfah that `Abdullah said: "No year has more rain than another, but Allah divides the rain between them as He wills, it rains here a year and there a year. Then he recited:
وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ(And there is not a thing, but the supplies for it are with Us...) Reported by Ibn Jarir.
Benefits of the Winds
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ(And We send the winds fertilizing.) i.e., fertilizing the clouds so that they give rain, and fertilizing the trees so that they open their leaves and blossoms. These winds are mentioned here in the plural form because they give results, unlike the barren wind (Ar-Rih Al-'Aqim, see Adh-Dhariyat 51:41), which is mentioned in the singular and described as barren since it does not produce anything; because results can only be produced when there are two or more things.
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ(And We sent the winds fertilizing.) `Abdullah bin Mas`ud said, "The wind is sent bearing water from the sky, then it fertilizes the clouds until rain begins to generously fall, just as the milk of the pregnant camel flows generously." This was also the opinion of Ibn `Abbas, Ibrahim An-Nakha`i and Qatadah. Ad-Dahhak said: "Allah sends it to the clouds and it gets fertilized and becomes full of water." `Ubayd bin `Umayr Al-Laythi said: "Allah sends the wind which stirs up the earth, then Allah sends the wind which raises clouds, then Allah sends the wind which forms clouds, then Allah sends the fertilizing wind which pollinates the trees. Then he recited,
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ(And We sent the winds fertilizing,)
Fresh Water is a Blessing from Allah
فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ(and We give it to you to drink,) This means, "and We send it down to you fresh and sweet, so that you can drink it; if We had wished, We could have made it salty (and undrinkable)", as Allah points out in another Ayah in Surat Al-Waqi`ah, where He says:
أَفَرَءَيْتُمُ الْمَآءَ الَّذِى تَشْرَبُونَ - أَءَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ - لَوْ نَشَآءُ جَعَلْنَـهُ أُجَاجاً فَلَوْلاَ تَشْكُرُونَ(Tell Me! The water that you drink, is it you who cause it to come down from the rain clouds, or are We the cause of it coming down If We willed, We verily could make it salty (and undrinkable), why then do you not give thanks (to Allah)) (56:68-70). And Allah says:
هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَآءً لَّكُم مَّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ(He it is Who sends water down from the sky; from it you drink and from it (grows) the vegetation on which you send your cattle to pasture.) (16:10)
وَمَآ أَنْتُمْ لَهُ بِخَـزِنِينَ(and it is not you who are the owners of its supply.) The meaning is, "You are not taking care of it; rather We send it down and take care of it for you, making springs and wells flourish on the earth. " If Allah so willed, He could make it disappear, but by His mercy He sends it down and makes it fresh and sweet, maintaining the springs, wells, rivers and so on, so that they may drink from it all year long, water their livestock and irrigate their crops.
The Power of Allah to initiate and renew Creation
وَإنَّا لَنَحْنُ نُحْىِ وَنُمِيتُ(And certainly We! We it is Who give life, and cause death,) Here Allah tells us of His power to initiate creation and renew it. He is the One Who brings life to creatures out of nothingness, then He causes them to die, then He will resurrect all of them on the Day when He will gather them together. He also tells us that He will inherit the earth and everyone on it, and then it is to Him that they will return. Then He tells us about His perfect knowledge of them, the first and the last of them. He says
وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ(And indeed, We know the first generations of you who had passed away...). Ibn `Abbas said, "The first generations are all those who have passed away since the time of Adam. The present generations and those who will come afterward refer to those who are alive now and who are yet to come, until the Day of Resurrection." Something similar was narrated from `Ikrimah, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Muhammad bin Ka`b, Ash-Sha`bi and others. Ibn Jarir reported from Muhammad bin Abi Ma`shar, from his father, that he heard `Awn bin `Abdullah discussing the following Ayah with Muhammad bin Ka`b:
وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَـْخِرِينَ(And indeed, We know the first generations of you who had passed away, and indeed, We know the present generations of you (mankind), and also those who will come afterwards), and it was stated that it refers to the rows for prayer. Muhammad bin Ka`b said, "This is not the case.
وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ(And indeed, We know the first generations of you who had passed away) it refers to those who are dead or have been killed, and;
الْمُسْتَـْخِرِينَ(and also those who will come afterwards) meaning those who have yet to be created.
وَإِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ(And verily your Lord will gather them together. Truly, He is Most Wise, (and) Knowing)." `Awn bin `Abdullah said, "May Allah help you and reward you with good."
Tafsir Kemenag RI
Ayat ini menerangkan bahwa sumber segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Semua berasal dari khazanah atau simpanan perbendaharaan Allah, baik yang berupa sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM). Semua yang ada di atas bumi maupun di dalam perutnya diciptakan Allah untuk manusia. Manusia diberi tugas oleh Allah untuk mengelola, mengambil manfaat, dan memeliharanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Hud/11 ayat 61:
¦Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya). (Hud/11: 61)
Untuk dapat mengambil manfaat yang besar dari sumber daya alam (SDA) yang tersedia, manusia perlu mengembangkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia (SDM)-nya dengan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian untuk betul-betul dapat menggali sumber daya alam itu perlu modal. Dengan kombinasi atau gabungan antara natural resources, yaitu sumber daya alam, skill atau keterampilan manusia, serta modal yang cukup, manusia dapat meraih rezeki dari Allah untuk kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya. Hal ini sesuai dengan sunatullah yaitu orang yang diberi rezeki hanyalah yang berusaha dan bekerja keras mencarinya.
Berusaha dan bekerja keras untuk memperoleh rezeki dari khazanah perbendaharaan Allah ini juga harus disertai tanggung jawab untuk memelihara (konservasi) kekayaan dan sumber daya alam, dan tidak merusak serta menghancurkannya. Oleh karena itu, pada akhir ayat 61 Surah Hud, Allah mengingatkan manusia supaya selalu mohon ampunan dan bertobat kepada Allah, serta menghentikan perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan alam yang telah ditentukan dalam sunatullah. Hal ini dapat diketahui dari pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi.
Manusia yang baik menurut tuntunan agama Islam ialah yang dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam ibadah dan khilafah (melaksanakan tugas kepemimpinan dan pengelolaan alam yang baik). Dia memperoleh rezeki dengan bekerja dan berusaha secara baik dan sungguh-sungguh, bukan merusak dan menjadi beban bagi orang lain.
Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-hakim telah memberi tuntunan, antara lain:
Dari Rifaah bin Rafi bahwa Nabi saw ditanya orang, "Usaha manakah yang paling baik?" Rasulullah berkata, "Usaha seseorang yang dikerjakan dengan tangannya dan semua jual beli yang mabrur (jual beli yang bersih tidak ada di dalamnya unsur-unsur tipuan, pemaksaan, dan sebagainya)." (Riwayat al-hakim)
Menurut hadis ini, rezeki yang baik ialah hasil kerja atau usaha yang baik dari orang itu sendiri (bukan pemberian orang lain), dan hasil dari jual beli yang mabrur. Yang dimaksud dengan jual beli yang mabrur ialah jual beli yang dilakukan secara wajar, saling rela antara penjual dan pembeli, tanpa paksaan dan tidak ada kebohongan. Firman Allah:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisa'/4: 29)
Menikmati rezeki dari usaha dan keringat sendiri atau hasil dari jual beli adalah cara terhormat sebagai manusia muslim, bukan karena pemberian dan belas kasihan orang lain dan bukan pula karena usaha yang dilarang agama, seperti mengambil hak, atau jual beli dengan memaksa atau tipu muslihat.
Allah Mahaadil dan Mahabijaksana dalam memberikan rezeki kepada para hamba-Nya. Maksudnya ialah memberikan dengan ukuran tertentu, sesuai dengan kebutuhan, keadaan, kemampuan, dan usaha orang tersebut. Dengan demikian, dalam pemberian rezeki tersebut tergambar kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Allah swt berfirman:
Katakanlah (Muhammad), "Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?" Katakanlah, "Milik Allah." Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. (al-An'am/6: 12)
Penganugerahan karunia dan nikmat Allah kepada para hamba-Nya itu disebutkan dalam Al-Qur'an dengan perkataan anzala (menurunkan), sebagaimana tersebut dalam firman-Nya yang lain:
¦Dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu (az-Zumar/39: 6)
Dan firman Allah swt:
.... Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia.... (al-hadid/57: 25)
Sesuatu dikatakan turun apabila ia berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, baik dalam arti yang sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Oleh karenanya, dari ayat ini dapat dipahami bahwa nikmat dan karunia itu berasal dari Allah Yang Mahatinggi lagi Mahakaya, dianugerahkan kepada makhluk yang lebih rendah daripada-Nya. Semua makhluk tergantung seluruh hidup dan kelanjutan kehidupannya kepada nikmat dan karunia Allah. Dengan demikian, merupakan suatu kewajiban bagi setiap makhluk mensyukuri nikmat dan karunia Allah dengan menghambakan diri kepada-Nya.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
وَإِن
wa-in
And not
مِّن
min
(is) any
شَيۡءٍ
shayin
thing
إِلَّا
illā
but
عِندَنَا
ʿindanā
with Us
خَزَآئِنُهُۥ
khazāinuhu
(are) its treasures
وَمَا
wamā
and not
نُنَزِّلُهُۥٓ
nunazziluhu
We send it down
إِلَّا
illā
except
بِقَدَرٖ
biqadarin
in a measure
مَّعۡلُومٖ
maʿlūmin
known