Surah 22 · 22:52

Surah Al-Hajj 22:52

Al-Hajj · The Pilgrimage

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلْقَى ٱلشَّيْطَـٰنُ فِىٓ أُمْنِيَّتِهِۦ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلْقِى ٱلشَّيْطَـٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Wama arsalna min qablika minrasoolin wala nabiyyin illa itha tamannaalqa ashshaytanu fee omniyyatihi fayansakhuAllahu ma yulqee ashshaytanu thummayuhkimu Allahu ayatihi wallahuAAaleemun hakeem

And We did not send before you any messenger or prophet except that when he spoke [or recited], Satan threw into it [some misunderstanding]. But Allāh abolishes that which Satan throws in; then Allāh makes precise His verses. And Allāh is Knowing and Wise.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,

SurahAl-Hajj
Juz17
Page338
Revelationmadinah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

How the Shaytan threw some Falsehood into the Words of the Messengers, and how Allah abolished

At this point many of the scholars of Tafsir mentioned the story of the Gharaniq and how many of those who had migrated to Ethiopia came back when they thought that the idolators of the Quraysh had become Muslims, but these reports all come through Mursal chains of narration and I do not think that any of them may be regarded as Sahih. And Allah knows best. Al-Bukhari said, "Ibn `Abbas said,

فِى أُمْنِيَّتِهِ

(in his recitation (of the revelation).) "When he spoke, the Shaytan threw (some falsehood) into his speech, but Allah abolished that which the Shaytan threw in."

ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ ءَايَـتِهِ

(Then Allah establishes His revelations.) `Ali bin Abi Talhah reported that Ibn `Abbas said,

إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَـنُ فِى أُمْنِيَّتِهِ

(when he did recite (the revelation), Shaytan threw (some falsehood) in it) "When he spoke, the Shaytan threw (some falsehood) into his speech." Mujahid said:

إِذَا تُمْنَى

(when he did recite) "When he spoke." It was said that it refers to his recitation, whereas,

إِلاَّ أَمَانِىَّ

(but they trust upon Amani) means they speak but they do not write. Al-Baghawi and the majority of the scholars of Tafsir said:

تَمَنَّى

(he did recite) "Reciting the Book of Allah."

أَلْقَى الشَّيْطَـنُ فِى أُمْنِيَّتِهِ

(Shaytan threw (some falsehood) in it) "In his recitation." Ad-Dahhak said:

إِذَا تُمْنَى

(when he did recite) "When he recited." Ibn Jarir said, "This comment is more akin to interpretation."

فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطَـنُ

(But Yansakh Allah that which Shaytan throws in.) The meaning of the word Naskh in Arabic is to remove or lift away. `Ali bin Abi Talhah reported that Ibn `Abbas said, "This means, Allah cancels out that which the Shaytan throws in."

وَاللَّهُ عَلِيمٌ

(And Allah is All-Knower,) means, He knows all matters and events that will happen, and nothing whatsoever is hidden from Him.

حَكِيمٌ

(All-Wise.) means, in His decree, creation and command, He has perfect wisdom and absolute proof, hence He says:

لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى الشَّيْطَـنُ فِتْنَةً لِّلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ

(That He (Allah) may make what is thrown in by Shaytan a trial for those in whose hearts is a disease) meaning, doubt, Shirk, disbelief and hypocrisy. Ibn Jurayj said:

الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ مَّرَضٌ

(those in whose hearts is a disease) "The hypocrites, and

وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ

(and whose hearts are hardened.) means the idolators."

وَإِنَّ الظَّـلِمِينَ لَفِى شِقَاقٍ بَعِيدٍ

(And certainly, the wrongdoers are in an opposition far-off.) means, far away in misguidance, resistance and stubbornness, i.e., far from the truth and the correct way.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُواْ بِهِ

(And that those who have been given knowledge may know that it is the truth from your Lord, so that they may believe therein,) means, `so that those who have been given beneficial knowledge with which they may differentiate between truth and falsehood, those who believe in Allah and His Messenger, may know that what We have revealed to you is the truth from your Lord, Who has revealed it by His knowledge and under His protection, and He will guard it from being mixed with anything else.' Indeed, it is the Wise Book which,

لاَّ يَأْتِيهِ الْبَـطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

(Falsehood cannot come to it from before it or behind it, (it is) sent down by the All-Wise, Worthy of all praise (Allah).) 41:42

فَيُؤْمِنُواْ بِهِ

(so that they may believe therein,) means, that they may believe that it is true and act upon it.

فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

(and their hearts may submit to it with humility.) means, that their hearts may humble themselves and accept it.

وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ ءَامَنُواْ إِلَى صِرَطٍ مُّسْتَقِيمٍ

(And verily, Allah is the Guide of those who believe, to the straight path.) means, in this world and in the Hereafter. In this world, He guides them to the truth and helps them to follow it and to resist and avoid falsehood; in the Hereafter, He will guide them to the straight path which leads to the degrees of Paradise, and He will save them from the painful torment and the dismal levels of Hell.

Tafsir Kemenag RI

Dalam ayat ini Allah memperingatkan orang-orang yang beriman akan usaha-usaha yang dilakukan oleh setan; baik setan dalam bentuk jin, maupun setan dalam bentuk manusia untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Di antara usaha-usaha setan itu ialah apabila Rasul membicarakan ayat-ayat Allah, atau menjelaskan dan menyampaikan syariat yang dibawanya kepada para sahabatnya, maka bangunlah setan-setan itu dan berusahalah mereka memasukkan ke dalam hati para pendengar sesuatu tafsiran yang salah, sehingga mereka meyakini bahwa ayat-ayat atau syariat yang disampaikan Rasul itu, bukan berasal dari Allah, tetapi semata-mata ucapan Rasul saja, yang dibuat-buat untuk meyakinkan manusia akan kenabian dan kerasulannya. Ada pula di antara setan-setan itu menyisipkan tafsir yang salah terhadap ayat-ayat itu, sehingga tanpa disadari oleh para pendengar, mereka telah menyimpang dengan tafsir itu sendiri dari maksud ayat yang sebenarnya.

Usaha setan itu tidak saja dilakukan terhadap Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi, tetapi juga telah dilakukannya terhadap agama dan kitab-kitab suci yang pernah diturunkan kepada para rasul. Usaha-usaha setan itu ada yang berhasil. Bila dipelajari dengan sungguh-sungguh sejarah agama yang dibawa para rasul dan sejarah kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada mereka. Telah banyak dimasukkan oleh setan ke dalam agama-agama itu sesuatu yang dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah. Yang disisipkan itu bukan saja hal yang ringan dan bukan prinsip, tetapi banyak pula yang telah berhasil disisipkan itu sesuatu yang dapat mengubah azas dan pokok agama itu, Allah berfirman:

Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat). (al-Ma'idah/5: 13)

Agama yang diturunkan Allah kepada para rasul terdahulu yang telah banyak dicampuri oleh perbuatan setan, di antaranya ialah agama Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Isa as.

Dalam sejarah kaum Muslimin setelah Rasulullah saw dan para sahabat terdekat meninggal dunia, nampak dengan jelas usaha-usaha untuk merusak dan mengubah agama Islam meskipun usaha untuk mengubah, menambah atau mengurangi ayat-ayat Al-Qur'an tidak berhasil, karena Al-Qur'an dipelihara oleh Allah, tetapi mereka hampir saja berhasil memasukkan hadis-hadis palsu ke dalam kumpulan hadis-hadis Nabi. Di samping itu juga mereka hampir berhasil menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan tafsir atau takwil yang jauh dari makna Al-Qur'an yang dikehendaki.

Di samping usaha-usaha mereka untuk mengubah ayat-ayat suci Al-Qur'an, hadis Nabi dan syariat Islam, mereka juga berusaha untuk merusak hidup dan kehidupan manusia, seperti jika seorang mencita-citakan adanya sesuatu kebaikan pada dirinya, maka ditimbulkanlah oleh setan di dalam diri dan pikiran orang itu pendapat atau keyakinan bahwa cita-cita yang diinginkan itu sulit memperolehnya, sehingga timbul pada diri dan kemauan orang itu rasa takut dan rasa tidak sanggup mencapai cita-cita yang baik itu.

Mengenai Al-Qur'an banyak sekali usaha-usaha untuk meniru-nirunya, memasukkan tafsir dan takwilan yang salah ke dalamnya, memasukkan khurafat-khurafat dan sebagainya, namun semua usaha itu mengalami kegagalan. Hal ini sesuai dengan jaminan Allah tehadap pemeliharaan Al-Qur'an itu, Allah berfirman:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (al-Hijr/15: 9)

Jika diperhatikan sejarah Al-Qur'an, amat banyak cara yang telah dilakukan untuk menjaga otensitas Al-Qur'an itu, di antaranya ialah:

1. Di masa Rasulullah masih hidup, setiap ayat-ayat Al-Qur'an diturunkan beliau menyuruh menuliskan dan menghafalnya.

2. Tidak lama setelah Rasulullah saw meninggal dunia, seluruh Al-Qur'an telah dapat dikumpulkan dan ditulis pada lembaran-lembaran yang kemudian diikat dan disimpan oleh Abu Bakar, sepeninggal Abu Bakar disimpan oleh Umar, kemudian oleh Hafsah binti Umar. Di masa Usman Al-Qur'an yang ditulis pada lembaran-lembaran itu dibukukan. Al-Qur'an dinamai "Mushaf". Ada lima buah mushaf yang ditulis di masa Usman itu. Dari mushaf yang lima itulah kaum Muslimin di seluruh dunia Islam di masa itu menyalin Al-Qur'an.

3. Mendorong dan menambah semangat orang-orang yang berilmu, agar memperdalam ilmunya. Dengan kemampuan ilmu yang ada, mereka dapat mempertahankan kemurnian Al-Qur'an dari segala macam subhat dan penafsiran yang salah.

4. Sejak masa Nabi saw sampai saat ini, selalu ada orang yang hafal seluruh Al-Qur'an, sehingga sukar dilakukan penyisipan-penyisipan ke dalamnya. Bahkan kesalahan tulisan yang sedikit saja pada ayat-ayat Al-Qur'an telah dapat menimbulkan reaksi yang kuat dari kalangan kaum Muslimin.

Dalam setiap kurun sejarah Islam, selalu ada tokoh-tokoh ulama yang sanggup membela dan mempertahankan ajaran Islam dari serangan yang datang dari luar Islam yang beraneka ragam bentuknya.

Pada saat banyak timbul usaha-usaha pemalsuan hadis pada permulaan abad kedua hijriyah, tampillah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau berusaha mengumpulkan dan membukukan hadis-hadis Nabi saw yang masih berada dalam hafalan para tabi'in, dan sebagian telah dituliskan oleh para sahabat. Beliau memerintahkan para pejabat di daerah-daerah, dan para ulama agar mengumpulkan hadis-hadis Nabi di daerah mereka masing-masing. Di antara para ulama yang menulisnya ialah Imam az-Zuhri. Maka oleh Imam az- Zuhri dikumpulkan hadis-hadis Nabi itu. Sekalipun pada masa itu belum lagi dilakukan penelitian dan pemisahan hadis-hadis mana yang palsu dan mana yang benar-benar berasal dari Nabi, tetapi usaha ini merupakan landasan dan dasar dari usaha-usaha yang akan dilakukan oleh para Imam hadis yang datang kemudian sesudah angkatan az-Zuhri ini, seperti Imam al-Bukhari, Muslim, an-Nasa'i, Abu Daud dan lain-lain. Imam-imam inilah yang melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang telah dikumpulkan di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu.

Demikian pula Imam al-Asy'ari telah berhasil mempertahankan kemurnian ajaran Islam dari pengaruh filsafat Yunani yang banyak dipelajari oleh ulama-ulama Islam waktu itu. Kemudian al-Gazali telah berhasil pula mempertahankan ajaran Islam dari pengajaran atau pengaruh yang kuat dari filsafat Neoplatonisme. Ibnu Taimiyah telah membersihkan ajaran Islam dari berbagai khufarat yang menyesatkan.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk segala macam bentuk usaha setan untuk merusak dan merubah ajaran Islam, semua yang terbesit di dalam hati manusia, semua yang nampak dan semua yang tersembunyi. Dengan pengetahuan-Nya itu pula Dia melumpuhkan tipu daya setan yang ingin merusak agama-Nya, kemudian menimpakan pembalasan yang setimpal bagi mereka itu.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

وَمَآ

wamā

And not

أَرۡسَلۡنَا

arsalnā

We sent

مِن

min

before you

قَبۡلِكَ

qablika

before you

مِن

min

any

رَّسُولٖ

rasūlin

Messenger

وَلَا

walā

and not

نَبِيٍّ

nabiyyin

a Prophet

إِلَّآ

illā

but

إِذَا

idhā

when

تَمَنَّىٰٓ

tamannā

he recited

أَلۡقَى

alqā

threw

ٱلشَّيۡطَٰنُ

l-shayṭānu

the Shaitaan

فِيٓ

in

أُمۡنِيَّتِهِۦ

um'niyyatihi

his recitation

فَيَنسَخُ

fayansakhu

But Allah abolishes

ٱللَّهُ

l-lahu

But Allah abolishes

مَا

what

يُلۡقِي

yul'qī

throws

ٱلشَّيۡطَٰنُ

l-shayṭānu

the Shaitaan

ثُمَّ

thumma

then

يُحۡكِمُ

yuḥ'kimu

Allah will establish

ٱللَّهُ

l-lahu

Allah will establish

ءَايَٰتِهِۦۗ

āyātihi

His Verses

وَٱللَّهُ

wal-lahu

And Allah

عَلِيمٌ

ʿalīmun

(is) All-Knower

حَكِيمٞ

ḥakīmun

All-Wise