Surah 25 · 25:62

Surah Al-Furqan 25:62

Al-Furqan · The Criterion

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Wahuwa allathee jaAAala allayla wannaharakhilfatan liman arada an yaththakkara aw aradashukoora

And it is He who has made the night and the day in succession for whoever desires to remember or desires gratitude.

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.

SurahAl-Furqan
Juz19
Page365
Revelationmakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

Mentioning the Might and Power of Allah

Here Allah glorifies Himself and praises the beauty He created in the heavens of Al-Buruj, the giant stars, according to the view of Mujahid, Sa`id bin Jubayr, Abu Salih, Al-Hasan and Qatadah. This is like the Ayah,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَـبِيحَ

(And indeed We have adorned the nearest heaven with lamps) (67:5). Allah says:

تَبَارَكَ الَّذِى جَعَلَ فِى السَّمَآءِ بُرُوجاً وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجاً

(Blessed be He Who has placed in the heaven Al-Buruj, and has placed therein a great lamp,) which is the sun which shines like a lamp, as Allah says:

وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً

(And We have made (therein) a shining lamp) (78:13).

وَقَمَراً مُّنِيراً

(and a moon giving light.) means, shining and illuminated by the light of something else, different from the light of the sun, as Allah says:

هُوَ الَّذِى جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُوراً

(It is He Who made the sun a shining thing and the moon as a light) (10:5). And Allah tells us that Nuh, peace be upon him, said to his people:

أَلَمْ تَرَوْاْ كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَـوَتٍ طِبَاقاً - وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجاً

(See you not how Allah has created the seven heavens one above another And has made the moon a light therein, and made the sun a lamp) (71:15-16). Then Allah says:

وَهُوَ الَّذِى جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً

(And He it is Who has put the night and the day in succession (Khilfatan),) meaning, each one comes after the other, in a never-ending alternation. When one goes the other comes, and vice versa, as Allah says:

وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ

(And He has made the sun and the moon, both constantly pursuing their courses) (14:33).

يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا

(He brings the night as a cover over the day, seeking it rapidly) (7:54).

لاَ الشَّمْسُ يَنبَغِى لَهَآ أَن تدْرِكَ القَمَرَ

(It is not for the sun to overtake the moon) (36:40).

لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوراً

(for such who desires to remember or desires to show his gratitude.) means, He has caused them both to follow one another to show the times when His servants should worship Him. So whoever misses an act of worship during the night can make it up during the day, and whoever misses an act of worship during the day can make it up during the night. It was recorded in a Sahih Hadith:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْل»

(Allah spreads forth His Hand at night for the one who has done evil during the day to repent, and He spreads forth His Hand during the day for the one who has done evil during the night to repent.) Mujahid and Qatadah said: "Khilfatan means different, i.e., because one is dark and the other is light."

Tafsir Kemenag RI

Allah pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang selalu mengingat nikmat-Nya dan bertafakur tentang keajaiban ciptaan-Nya. Dengan demikian, timbul dorongan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah itu. Jika seandainya malam dan siang tidak bergiliran, dan matahari terus saja bersinar, niscaya hal itu menimbulkan perasaan jemu atau bosan dan lelah karena tidak dapat beristirahat di malam hari. Demikian pula jika malam terus berlangsung tanpa diselingi dengan sinar matahari, niscaya membawa kerusakan bagi makhluk yang membutuhkannya. Adanya pergantian siang dan malam itu memberikan kesempatan untuk menyempurnakan kekurangan dalam ibadah yang sunah yaitu bilamana seseorang karena kesibukan bekerja pada siang harinya tidak sempat berdoa atau membaca wirid, maka dapat dilaksanakan pada malam harinya, seperti tersebut dalam sebuah hadis sahih:

Sesungguhnya Allah mengulurkan tangan-Nya di malam hari supaya orang yang berbuat dosa pada siang hari dapat bertobat dan mengulurkan tangan-Nya pada siang hari supaya dapat bertobat orang yang berdosa pada malam harinya, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya. (Riwayat Muslim dari Abu Musa).

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab pernah salat Duha lama sekali. Tatkala beliau ditegur oleh salah seorang sahabat, beliau menjawab bahwa ia meninggalkan beberapa wirid hari ini, karena kesibukan, maka ia bermaksud mengganti kekurangan itu dengan salat Duha, lalu beliau membaca ayat 62 ini.

Malam, siang, matahari, dan bulan merupakan empat nikmat Allah. Allah menciptakan malam sehingga manusia dapat beristirahat akibat gelapnya malam. Siang diciptakan oleh Allah dengan terbitnya matahari untuk bekerja. Allah menciptakan matahari dan bulan masing-masing mempunyai poros dan garis edarnya sendiri-sendiri. Tanpa kenal lelah, dan tidak pernah diam, semuanya terus beredar.

Pergantian siang dengan malam bisa hanya berupa perubahan terang menjadi gelap. Akan tetapi, secara psikologis pergantian dari terang menjadi gelap itu memberikan dampak suasana hati yang sama sekali berbeda dengan suasana siang. Berbagai percobaan telah dilakukan untuk mengamati bagaimana pengaruh psikis terhadap pekerja malam. Teramati gejala psikosomatis (gejala fisik yang disebabkan oleh penyebab psikis) mulai dari hanya mual-mual sampai yang agak berat yaitu depresi mental. Ini baru pengaruh jangka pendek terhadap fisik dan kejiwaan manusia. Pengaruh jangka panjang bisa memberikan efek yang lebih berat. Oleh sebab itu, Allah menggariskan malam untuk istirahat dan siang untuk bekerja. Jadi bekerja malam hari yang disebut lembur itu bertentangan dengan kodrat manusia seperti yang digariskan Allah.

Kondisi ini tak mengherankan karena pada siang hari bumi mendapatkan paparan (exposure) sinar tampak, mulai bergeser ke warna kuning saat matahari terbenam, bergeser ke infra-merah saat salat Isya, ke ultraviolet jika malam telah larut, dan mendekati gelombang gamma yang berbahaya mendekati subuh. Paparan ini yang menyebabkan manusia menderita psikosomatik jika tidak beristirahat dan terpaksa harus bekerja.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

وَهُوَ

wahuwa

And He

ٱلَّذِي

alladhī

(is) the One Who

جَعَلَ

jaʿala

made

ٱلَّيۡلَ

al-layla

the night

وَٱلنَّهَارَ

wal-nahāra

and the day

خِلۡفَةٗ

khil'fatan

(in) succession

لِّمَنۡ

liman

for whoever

أَرَادَ

arāda

desires

أَن

an

to

يَذَّكَّرَ

yadhakkara

remember

أَوۡ

aw

or

أَرَادَ

arāda

desires

شُكُورٗا

shukūran

to be thankful