Surah 1 · 1:4
Surah Al-Fatihah 1:4
Al-Fatihah · The Opener
مَ
Maliki yawmi addeen
Sovereign of the Day of Recompense.
Pemilik hari pembalasan.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Indicating Sovereignty on the Day of Judgment
Allah mentioned His sovereignty of the Day of Resurrection, but this does not negate His sovereignty over all other things. For Allah mentioned that He is the Lord of existence, including this earthly life and the Hereafter. Allah only mentioned the Day of Recompense here because on that Day, no one except Him will be able to claim ownership of anything whatsoever. On that Day, no one will be allowed to speak without His permission. Similarly, Allah said,
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَـئِكَةُ صَفّاً لاَّ يَتَكَلَّمُونَ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَـنُ وَقَالَ صَوَاباً
(The Day that Ar-Ruh (Jibril (Gabriel) or another angel) and the angels will stand forth in rows, they will not speak except him whom the Most Gracious (Allah) allows, and he will speak what is right.) (78:38),
وَخَشَعَتِ الأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَـنِ فَلاَ تَسْمَعُ إِلاَّ هَمْساً
(And all voices will be humbled for the Most Gracious (Allah), and nothing shall you hear but the low voice of their footsteps.)(20:108), and,
يَوْمَ يَأْتِ لاَ تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ
(On the Day when it comes, no person shall speak except by His (Allah's) leave. Some among them will be wretched and (others) blessed) (11:105).
Ad-Dahhak said that Ibn `Abbas commented, "Allah says, `On that Day, no one owns anything that they used to own in the world."'
The Meaning of Yawm Ad-Din
Ibn `Abbas said, "Yawm Ad-Din is the Day of Recompense for the creatures, meaning the Day of Judgment. On that Day, Allah will reckon the creation for their deeds, evil for evil, good for good, except for those whom He pardons." In addition, several other Companions, Tabi`in and scholars of the Salaf, said similarly, for this meaning is apparent and clear from the Ayah.
Allah is Al-Malik (King or Owner)
Allah is the True Owner (Malik) (of everything and everyone). Allah said,
هُوَ اللَّهُ الَّذِى لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَـمُ
(He is Allah, beside Whom La ilaha illa Huwa, the King, the Holy, the One free from all defects) (59:23).
Also, the Two Sahihs recorded Abu Hurayrah saying that the Prophet ﷺ said,
«أَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللهِ رَجُلٌ تَسَمَّى بِمَلِكِ الْأَمْلَاكِ وَلَا مَالِكَ إِلَّا اللهُ»
(The most despicable name to Allah is a person who calls himself the king of kings, while there are no owners except Allah.)
Also the Two Sahihs recorded that the Messenger of Allah ﷺ said,
«يَقْبِضُ اللهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟»
((On the Day of Judgement) Allah will grasp the earth and fold up the heavens with His Right Hand and proclaim, 'I Am the King! Where are the kings of the earth Where are the tyrants Where are the arrogant')
Also, in the the Glorious Qur'an;
لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَحِدِ الْقَهَّارِ
(Whose is the kingdom this Day Allah's, the One, the Irresistible.)(40:16).
As for calling someone other than Allah a king in this life, then it is done as a figure of speech. For instance, Allah said,
إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
(Indeed Allah appointed Talut (Saul) as a king over you.) (2:247),
وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ
(As there was a king behind them)(18:79), and,
إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَآءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوكاً
When He made Prophets among you, and made you kings )5:20(.
Also, the Two Sahihs recorded,
«مِثْلُ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ»
(Just like kings reclining on their thrones)
The Meaning of Ad-Din
Ad-Din means the reckoning, the reward or punishment. Similarly, Allah said,
يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ
(On that Day Allah will pay them the (Dinahum) recompense (of their deeds) in full) (24:25), and,
أَءِنَّا لَمَدِينُونَ
(Shall we indeed (be raised up) to receive reward or punishment (according to our deeds)) (37:53). A Hadith stated,
«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوتِ»
(The wise person is he who reckons himself and works for (his life) after death.) meaning, he holds himself accountable. Also, `Umar said, "Hold yourself accountable before you are held accountable, weigh yourselves before you are weighed, and be prepared for the biggest gathering before He Whose knowledge encompasses your deeds,
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ
(That Day shall you be brought to Judgement, not a secret of yours will be hidden) (69:18)."
Tafsir Kemenag RI
Sesudah Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu "menguasai hari pembalasan". Penyebutan ayat ini dimaksudkan agar kekuasaan Allah atas alam ini tak terhenti sampai di dunia ini saja, tetapi terus berkelanjutan sampai hari akhir.
Ada dua macam bacaan berkenaan dengan Malik. Pertama, dengan memanjangkan ma, dan kedua dengan memendekkannya. Menurut bacaan yang pertama, Malik artinya "Yang memiliki" (Yang empunya). Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya "Raja". Kedua bacaan itu benar.
Baik menurut bacaan yang pertama ataupun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti "berkuasa" dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah diterjemahkan dengan "Yang menguasai". "Yaum" artinya hari, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak.
Ad-din banyak artinya, di antaranya: (1) perhitungan, (2) ganjaran, pembalasan, (3) patuh, (4) menundukkan, dan (5) syariat, agama. Yang selaras di sini ialah dengan arti "pembalasan". Jadi, Maliki yaumiddin maksudnya "Allah itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan."
Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal yang terjadi, yaitu Kiamat, kebangkitan, berkumpul, perhitungan, pembalasan, tetapi pembalasan sajalah yang disebut oleh Allah di sini, karena itulah yang terpenting. Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, kebangkitan dan seterusnya, merupakan pendahuluan dari pembalasan, apalagi untuk targib dan tarhib (menggalakkan dan menakut-nakuti), penyebutan "hari pembalasan" itu lebih tepat.
Hari Akhirat Menurut Pendapat Akal (Filsafat)
Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia pada masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal. Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini, bukan saja ditetapkan oleh agama, tetapi juga ditunjukkan oleh akal.
Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya orang yang teraniaya hidup di dunia ini telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa kecil atau besar, belum mendapat penghargaan atas jasanya. Alangkah banyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat, membanting tulang, tetapi belum sempat lagi merasakan buah usahanya itu. Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat, penganiaya, pembuat onar, yang tak dapat dijangkau oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain. Maka biarpun kejahatan dan aniaya itu telah merantai bangsa seluruhnya, tidaklah akan digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Maka, dimanakah akan didapat keadilan itu, seandainya nanti tidak ada mahkamah yang lebih tinggi, Mahkamah Allah di hari kemudian?
Sebab itu, para pemikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir, antara lain Pitagoras. Filsuf ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini merupakan bekal hidup yang abadi di akhirat kelak. Sebab itu sejak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi. Sokrates, Plato dan Aristoteles berpendapat, "Jiwa yang baik akan merasakan kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu. Hanya kelezatan rohani, yang betapa pun banyak dan lamanya, tidak menyebabkan bosan dan jemu."
Kepercayaan Masyarakat Arab Sebelum Islam tentang Hari Akhirat
Di antara masyarakat Arab sebelum Islam terdapat beberapa pemikir dan pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian, seperti Zuhair bin Abi Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad saw diutus Allah sebagai rasul.
Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian. Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair mereka: "Hidup, sesudah itu mati, sesudah itu dibangkitkan lagi, itulah cerita dongeng, hai fulan." Karena itu, datanglah agama Islam, membawa kepastian tentang adanya hari kemudian. Pada hari itu akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya, besar atau kecil. Allah berfirman:
(7) Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, (8) dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)
Tidak sedikit ayat di dalam Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa di antara mereka memang banyak yang tidak percaya adanya hari akhirat; hidup hanya di dunia, setelah itu selesai (al-An'am/6: 29 ; al-Mu'minun/23: 37). Mereka berkata, bila seorang bapak mati, maka lahir anak, bila suatu bangsa punah, maka datang bangsa lain. Mereka tidak percaya, bahwa sesudah mati manusia masih akan hidup kembali (Hud/11: 7; al-Isra'/17: 49) dan banyak lagi ayat senada yang menggambarkan pendirian demikian. Di dalam sejarah pemikiran tercatat bahwa sejak dahulu kala banyak anggapan yang demikian itu.
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Word by word
مَٰلِكِ
māliki
(The) Master
يَوۡمِ
yawmi
(of the) Day
ٱلدِّينِ
l-dīni
(of the) Judgment