Surah 2 · 2:261

Surah Al-Baqarah 2:261

Al-Baqarah · The Cow

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٲلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ‌ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ‌ۗ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ

Mathalu allatheena yunfiqoona amwalahumfee sabeeli Allahi kamathali habbatin anbatatsabAAa sanabila fee kulli sunbulatin mi-atu habbatinwallahu yudaAAifu liman yashao wallahuwasiAAun AAaleem

The example of those who spend their wealth in the way of Allāh is like a seed [of grain] which grows seven spikes; in each spike is a hundred grains. And Allāh multiplies [His reward] for whom He wills. And Allāh is all-Encompassing and Knowing.

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

SurahAl-Baqarah
Juz3
Page44
Revelationmadinah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

Rewards of Spending in Allah's Cause

This is a parable that Allah made of the multiplication of rewards for those who spend in His cause, seeking His pleasure. Allah multiplies the good deed ten to seven hundred times. Allah said,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَلَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

(The parable of those who spend their wealth in the way of Allah...)

Sa`id bin Jubayr commented, "Meaning spending in Allah's obedience." Makhul said that the Ayah means, "Spending on Jihad, on horse stalls, weapons and so forth." The parable in the Ayah is more impressive on the heart than merely mentioning the number seven hundred. This Ayah indicates that Allah `grows' the good deeds for its doers, just as He grows the plant for whoever sows it in fertile land. The Sunnah also mentions that the deeds are multiplied up to seven hundred folds. For instance, Imam Ahmad recorded that Abu Mas`ud said that a man once gave away a camel, with its bridle on, in the cause of Allah and the Messenger of Allah ﷺ said,

«لَتَأْتِيَنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِسَبْعِمِائَةِ نَاقَةٍ مَخْطُومَة»

(On the Day of Resurrection, you will have seven hundred camels with their bridles.)

Muslim and An-Nasa'i also recorded this Hadith, and Muslim's narration reads, "A man brought a camel with its bridle on and said, `O Messenger of Allah! This is in the sake of Allah.' The Messenger ﷺ said,

«لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَبْعُمِائَةِ نَاقَة»

(You will earn seven hundred camels as reward for it on the Day of Resurrection. )

Another Hadith: Ahmad recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah ﷺ said,

«كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ بِعَشَرِ أَمْثَالِهَا، إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، إِلى مَا شَاءَ اللهُ، يَقُولُ اللهُ: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخَلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، الصَّوْمُ جُنَّةٌ، الصَّومُ جُنَّة»

(Every good deed that the son of Adam performs will be multiplied ten folds, to seven hundred folds, to many other folds, to as much as Allah wills. Allah said, "Except the fast, for it is for Me and I will reward for it. One abandons his food and desire in My sake." The fasting person has two times of happiness: when he breaks his fast and when he meets his Lord. Verily, the odor that comes from the mouth of whoever fasts is more pure to Allah than the scent of musk. Fasting is a shield (against sinning), fasting is a shield.) Muslim recorded this Hadith.

Allah's statement,

وَاللَّهُ يُضَـعِفُ لِمَن يَشَآءُ

(Allah gives manifold increase to whom He wills) is according to the person's sincerity in his deeds.

وَاللَّهُ وَسِعٌ عَلِيمٌ

(And Allah is All-Sufficient for His creatures' needs, All-Knower) meaning, His Favor is so wide that it encompasses much more than His creation, and He has full knowledge in whoever deserves it, or does not deserve it. All the praise and thanks are due to Allah.

Tafsir Kemenag RI

Hubungan antara infak ) dengan hari akhirat erat sekali. Seseorang tidak akan mendapat pertolongan apa pun dan dari siapa pun pada hari akhirat, kecuali dari hasil amalnya sendiri selama hidup di dunia, antara lain amal berupa infak di jalan Allah. Betapa mujurnya orang yang suka menafkahkan hartanya di jalan Allah, orang tersebut seperti seorang yang menyemaikan sebutir benih di tanah yang subur. Benih itu menumbuhkan sebatang pohon, dan pohon itu bercabang menjadi tujuh tangkai, setiap tangkai menghasilkan buah, dan setiap tangkai berisi seratus biji, sehingga benih yang sebutir itu memberikan hasil sebanyak 700 butir. Ini berarti tujuh ratus kali lipat. Bayangkan, betapa banyak hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir.

Penggambaran seperti yang terdapat dalam ayat ini lebih baik, daripada dikatakan secara langsung bahwa "benih yang sebutir itu akan menghasilkan 700 butir". Sebab penggambaran yang terdapat dalam ayat tadi memberikan kesan bahwa amal kebaikan yang dilakukan oleh seseorang senantiasa berkembang dan ditumbuhkan oleh Tuhan sedemikian rupa, sehingga menjadi keuntungan yang berlipat ganda bagi orang yang melakukannya, seperti tumbuh kembangnya tanaman yang ditanam oleh seseorang pada tanah yang subur untuk keuntungan penanamnya.

Pengungkapan tentang perkembangan yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan seperti yang digambarkan dalam ayat ini telah membangkitkan minat para ahli tumbuh-tumbuhan untuk mengadakan penelitian dalam masalah itu. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa sebutir benih yang ditanam pada tanah yang baik dan menumbuhkan sebatang pohon, pada umumnya menghasilkan lebih dari setangkai buah bahkan ada yang berjumlah lebih dari lima puluh tangkai. Jadi, tidak hanya setangkai saja. Setiap tangkai berisi lebih dari satu biji, bahkan kadang-kadang lebih dari enam puluh biji. Dengan demikian jelas bahwa penggambaran yang diberikan ayat tadi bahwa sebutir benih dilipatgandakan hasilnya sampai menjadi tujuh ratus butir, bukanlah suatu penggambaran yang berlebihan, melainkan adalah wajar, dan sesuai dengan kenyataan.

Atas dasar tersebut, dapat kita katakan bahwa semakin banyak penyelidikan ilmiah dilakukan orang, dan semakin tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi umat manusia, semakin tersingkaplah kebenaran yang terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur'an, baik mengenai benda, tumbuh-tumbuhan, hewan, ruang angkasa dan sebagainya.

Banyak riwayat yang berasal dari Rasulullah saw yang menggambarkan keberuntungan orang-orang yang menafkahkan harta bendanya di jalan Allah, untuk memperoleh keridaan-Nya dan untuk menjunjung tinggi agama-Nya. Di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Dari Ibnu Mas'ud, bahwa ia berkata, "Seorang lelaki telah datang membawa seekor unta yang bertali di hidungnya ) lalu orang tersebut berkata, "Unta ini saya nafkahkan di jalan Allah". Maka Rasulullah saw bersabda, "Dengan nafkah ini, Anda akan memperoleh di akhirat kelak tujuh ratus ekor unta yang juga bertali di hidungnya." (Riwayat Muslim)

Pada akhir ayat ini disebutkan dua sifat di antara sifat-sifat-Nya, yaitu Mahaluas dan Maha Mengetahui. Maksudnya, Allah Mahaluas rahmat-Nya kepada hamba-Nya; karunia-Nya tidak terhitung jumlahnya. Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang patut diberi pahala yang berlipat-ganda, yaitu mereka yang suka menafkahkan harta bendanya untuk kepentingan umum, untuk menegakkan kebenaran, dan untuk kepentingan pendidikan bangsa dan agama, serta keutamaan-keutamaan yang akan membawa bangsa kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Apabila nafkah-nafkah semacam itu telah menampakkan hasilnya untuk kekuatan agama dan kebahagiaan bangsa, maka orang yang memberi nafkah itu pun akan dapat pula menikmatinya baik di dunia atau di akhirat nanti.

Ajaran Islam mengenai infak sangat tinggi nilainya. Selain mengikis sifat-sifat yang tidak baik seperti kikir dan mementingkan diri sendiri, infak juga menimbulkan kesadaran sosial yang mendalam, bahwa manusia senantiasa saling membutuhkan, dan seseorang tidak akan dapat hidup seorang diri. Sebab itu harus ada sifat gotong-royong dan saling memberi sehingga jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin dapat ditiadakan, persaudaraan dapat dipupuk dengan hubungan yang lebih akrab.

Menafkahkan harta di jalan Allah, baik yang wajib seperti zakat, maupun yang sunah seperti sedekah yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat, untuk memberantas penyakit kemiskinan dan kebodohan, untuk penyiaran agama Islam dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah sangat dituntut oleh agama, dan sangat dianjurkan oleh syara'. Sebab itu, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang membicarakan masalah ini, serta memberikan dorongan yang kuat dan memberikan perumpamaan yang menggambarkan bagaimana beruntungnya orang yang suka berinfak dan betapa malangnya orang yang tidak mau menafkahkan hartanya.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

مَّثَلُ

mathalu

Example

ٱلَّذِينَ

alladhīna

(of) those who

يُنفِقُونَ

yunfiqūna

spend

أَمۡوَٰلَهُمۡ

amwālahum

their wealth

فِي

in

سَبِيلِ

sabīli

(the) way

ٱللَّهِ

l-lahi

(of) Allah

كَمَثَلِ

kamathali

(is) like

حَبَّةٍ

ḥabbatin

a grain

أَنۢبَتَتۡ

anbatat

which grows

سَبۡعَ

sabʿa

seven

سَنَابِلَ

sanābila

ears

فِي

in

كُلِّ

kulli

each

سُنۢبُلَةٖ

sunbulatin

ear

مِّاْئَةُ

mi-atu

hundred

حَبَّةٖۗ

ḥabbatin

grain(s)

وَٱللَّهُ

wal-lahu

And Allah

يُضَٰعِفُ

yuḍāʿifu

gives manifold

لِمَن

liman

to whom

يَشَآءُۚ

yashāu

He wills

وَٱللَّهُ

wal-lahu

And Allah

وَٰسِعٌ

wāsiʿun

(is) All-Encompassing

عَلِيمٌ

ʿalīmun

All-Knowing