Surah 7 · 7:145

Surah Al-A'raf 7:145

Al-A'raf · The Heights

وَكَتَبْنَا لَهُۥ فِى ٱلْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَىْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِّكُلِّ شَىْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُواْ بِأَحْسَنِهَا‌ۚ سَأُوْرِيكُمْ دَارَ ٱلْفَـٰسِقِينَ

Wakatabna lahu fee al-alwahimin kulli shay-in mawAAithatan watafseelanlikulli shay-in fakhuthha biquwwatin wa/mur qawmakaya/khuthoo bi-ahsaniha saoreekum daraalfasiqeen

And We wrote for him on the tablets [something] of all things - instruction and explanation for all things, [saying], "Take them with determination and order your people to take the best of it. I will show you the home of the defiantly disobedient."

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), "Berpegangteguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik."

SurahAl-A'raf
Juz9
Page168
Revelationmakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

Allah chooses Musa and gives Him the Tablets

Allah states that He spoke to Musa directly and informed him that He has chosen him above the people of his time, by His Message and by speaking to him. Here we should mention that there is no doubt that Muhammad ﷺ is the chief of all the Children of Adam, the earlier and later ones among them. This is why Allah has chosen him to be the Final and Last Prophet and Messenger, whose Law shall remain dominant and valid until the commencement of the Last Hour. Muhammad's ﷺ followers are more numerous than the followers of all Prophets and Messengers. After Muhammad ﷺ, the next in rank of honor and virtue is Ibrahim upon him be peace,, then Musa, son of `Imran, who spoke to the Most Beneficent directly. Allah commanded Musa, saying,

فَخُذْ مَآ ءاتَيْتُكَ

(So hold to that which I have given you), of My Speech and conversation with you,

وَكُنْ مِّنَ الشَّـكِرِينَ

(and be of the grateful) , for it and do not ask for what is beyond your capacity to bear. Allah stated that He has written lessons and exhortation for all things and explanations for all things on the Tablets. It was said that in the Tablets, Allah wrote advice and the details of the commandments for lawful and prohibited matters. The Tablets contained the Tawrah, that Allah described;

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَـبَ مِن بَعْدِ مَآ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الاٍّولَى بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ

(And indeed We gave Musa -- after We had destroyed the generations of old -- the Scripture as an enlightenment for mankind)28: 43. It was also said that Allah gave Musa the Tablets before the Tawrah, and Allah knows best. Allah said next,

فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ

(Hold unto these with firmness), be firm on the obedience,

وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُواْ بِأَحْسَنِهَا

(and enjoin your people to take the better therein.) Sufyan bin `Uyaynah said, "Abu Sa`d narrated to us from `Ikrimah from Ibn `Abbas that "Musa, peace be upon him, was commanded to adhere to the toughest of what was ordained on his people." Allah's statement,

سَأُوْرِيكُمْ دَارَ الْفَـسِقِينَ

(I shall show you the home of the rebellious), means, you will witness the recompense of those who defy My order and deviate from My obedience, the destruction, demise and utter loss they will suffer.

Tafsir Kemenag RI

Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa Dia telah menurunkan kepada Nabi Musa as, beberapa keping lauh yang berisi petunjuk-petunjuk dan pengajaran-pengajaran, janji dan ancaman pokok-pokok agama, berupa pokok-pokok akidah, budi pekerti dan hukum-hukum.

Pendapat para ahli berbeda-beda tentang yang dimaksud dengan lauh itu termasuk bagian Kitab Taurat, dan ada yang berpendapat bahwa lauh diturunkan sebelum Kitab Taurat diturunkan. Dari berbagai pendapat itu yang kuat ialah pendapat yang mengatakan bahwa lauh itu adalah wahyu yang pertama diturunkan kepada Musa as, karena itu ia memuat hukum-hukum, akidah, dan keterangan-keterangan yang bersifat umum dan global. Kemudian diturunkan wahyu lain untuk menjelaskan secara berangsur-angsur sesuai dengan keperluan, keadaan masa, dan tempat.

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang jumlah lauh yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Ada yang mengatakan sepuluh dan sebagainya. Tidak ada nash yang tegas menerangkan jumlah lauh yang diturunkan itu.

Allah memerintahkan agar Musa berpegang teguh dengan pokok-pokok agama yang telah diturunkan kepadanya, melaksanakan segala petunjuk-petunjuk dan hukum-hukumnya, agar berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dan Allah memerintahkan agar Musa dan kaumnya berpegang teguh kepada ajaran-ajaran, petunjuk-petunjuk, dan hukum-hukum yang ada di dalam lauh itu. Sehingga Bani Israil akan baik budi-pekertinya, baik ibadahnya, dan tertutuplah pintu-pintu syirik. Jika kamu dan kaummu tidak mengambil dan memegang teguh apa yang telah Kami turunkan dengan sesungguhnya, maka kamu akan menjadi fasik, seperti yang telah dialami oleh kaum ad, samud, dan kaum Firaun dan sebagainya, atau Kami akan memperlihatkan kelak apa yang dialami orang-orang yang tidak mau taat kepada-Ku.

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil beberapa iktibar (pelajaran) sebagai berikut:

1.Wajib menyampaikan ajaran rasul dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan risalah yang dibawa Rasul, agar dengan demikian tercapailah pembentukan umat yang baru, penuh kedamaian di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Pengampun. Hal ini dapat dilihat pada perbuatan Rasulullah saw, sendiri. Beliau merupakan suri teladan bagi umatnya dalam mengamalkan perintah-perintah Allah. Hal ini dapat dilihat pada perkataan, perbuatan dan tindakannya. Karena itu orang Arab tertarik kepada agama yang dibawanya, sehingga dalam waktu yang sangat pendek, penduduk Jazirah Arab telah menganut agama Islam. Cara-cara yang dilakukan oleh Rasulullah ini telah dilakukan pula oleh para sahabat dan beberapa khalifah yang terkenal dalam sejarah, maka mereka pun telah berhasil sebagaimana Rasulullah telah berhasil. Dalam pada itu ada pula di antara kaum Muslimin yang telah berbuat kesalahan.

2. Kita lihat dalam sejarah bahwa Bani Israil menjadi bangsa yang besar dan berkuasa di saat mereka melaksanakan dengan baik agama Allah, dan mereka menjadi bangsa terjajah, hidup sengsara di saat mereka memandang enteng dan mengingkari agama Allah.

3.Demikianlah halnya kaum Muslimin, menjadi kuat dan besar di saat mereka melaksanakan dengan baik agama Allah, di saat timbul persaudaraan yang kuat sesama kaum Muslimin, dan mereka menjadi lemah di saat mereka tidak mengacuhkan lagi agama Allah.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

وَكَتَبۡنَا

wakatabnā

And We ordained (laws)

لَهُۥ

lahu

for him

فِي

in

ٱلۡأَلۡوَاحِ

l-alwāḥi

the tablets

مِن

min

of

كُلِّ

kulli

every

شَيۡءٖ

shayin

thing

مَّوۡعِظَةٗ

mawʿiẓatan

an instruction

وَتَفۡصِيلٗا

watafṣīlan

and explanation

لِّكُلِّ

likulli

for every

شَيۡءٖ

shayin

thing

فَخُذۡهَا

fakhudh'hā

So take them

بِقُوَّةٖ

biquwwatin

with firmness

وَأۡمُرۡ

wamur

and order

قَوۡمَكَ

qawmaka

your people

يَأۡخُذُواْ

yakhudhū

(to) take

بِأَحۡسَنِهَاۚ

bi-aḥsanihā

(the) best of it

سَأُوْرِيكُمۡ

sa-urīkum

I will show you

دَارَ

dāra

(the) home

ٱلۡفَٰسِقِينَ

l-fāsiqīna

(of) the defiantly disobedient