Surah 6 · 6:108

Surah Al-An'am 6:108

Al-An'am · The Cattle

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدْوَۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ‌ۗ كَذَٲلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Wala tasubboo allatheenayadAAoona min dooni Allahi fayasubboo AllahaAAadwan bighayri AAilmin kathalika zayyanna likulliommatin AAamalahum thumma ila rabbihim marjiAAuhumfayunabbi-ohum bima kanoo yaAAmaloon

And do not insult those they invoke other than Allāh, lest they insult Allāh in enmity without knowledge. Thus We have made pleasing to every community their deeds. Then to their Lord is their return, and He will inform them about what they used to do.

Dan Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan, tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

SurahAl-An'am
Juz7
Page141
Revelationmakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

The Prohibition of Insulting the False gods of the Disbelievers, So that they Do not Insult Allah

Allah prohibits His Messenger and the believers from insulting the false deities of the idolators, although there is a clear benefit in doing so. Insulting their deities will lead to a bigger evil than its benefit, for the idolators might retaliate by insulting the God of the believers, Allah, none has the right to be worshipped but He. `Ali bin Abi Talhah said that Ibn `Abbas commented on this Ayah 6:108; "They (disbelievers) said, `O Muhammad! You will stop insulting our gods, or we will insult your Lord.' Thereafter, Allah prohibited the believers from insulting the disbelievers' idols,

فَيَسُبُّواْ اللَّهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ

(lest they insult Allah wrongfully without knowledge.)" `Abdur-Razzaq narrated that Ma`mar said that Qatadah said, "Muslims used to insult the idols of the disbelievers and the disbelievers would retaliate by insulting Allah wrongfully without knowledge. Allah revealed,

وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ

(And insult not those whom they worship besides Allah.)" On this same subject -- abandoning what carries benefit to avert a greater evil - it is recorded in the Sahih that the Messenger of Allah ﷺ said,

«مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْه»

(Cursed is he who insults his own parents!) They said, "O Allah's Messenger! And how would a man insult his own parents" He said,

«يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّه»

(He insults a man's father, and that man insults his father, and insults his mother and that man insults his mother.) Allah's statement,

كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ

(Thus We have made fair seeming to each people its own doings;) means, as We made fair seeming to the idolators loving their idols and defending them, likewise We made fair seeming to every previous nation the misguidance they indulged in. Allah's is the most perfect proof, and the most complete wisdom in all that He wills and chooses.

ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ

(then to their Lord is their return,) gathering and final destination,

فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

(and He shall then inform them of all that they used to do.) He will compensate them for their deeds, good for good and evil for evil.

Tafsir Kemenag RI

Mengenai sebab turunnya ayat ini diceritakan sebagai berikut, pada suatu ketika orang-orang Islam mencaci-maki berhala, sesembahan orang-orang kafir, kemudian mereka dilarang dari memaki-maki itu. (Riwayat 'Abd ar-Razzaq dari Qatadah).

Allah melarang kaum Muslimin memaki berhala yang disembah kaum musyrik untuk menghindari makian terhadap Allah dari orang-orang musyrik, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui sifat-sifat Allah dan sebutan-sebutan yang seharusnya diucapkan untuk-Nya. Maka bisa terjadi mereka mencaci-maki Allah dengan kata-kata yang menyebabkan kemarahan orang-orang mukmin. Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang. Ayat ini memberikan isyarat pula kepada adanya larangan bagi kaum Muslimin bahwa mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan orang-orang kafir tambah menjauhi kebenaran. Mencaci-maki berhala sebenarnya adalah mencaci-maki benda mati. Oleh sebab itu memaki berhala itu adalah tidak dosa. Akan tetapi karena memaki berhala itu menyebabkan orang-orang musyrik merasa tersinggung dan marah, yang akhirnya mereka akan membalas dengan mencaci-maki Allah, maka terlaranglah perbuatan itu.

Allah memberikan penjelasan bahwa Dia menjadikan setiap umat menganggap baik perbuatan mereka sendiri. Hal ini berarti bahwa ukuran baik dan tidaknya sesuatu perbuatan atau kebiasaan, adakalanya timbul dari penilaian manusia sendiri, apakah itu merupakan perbuatan atau kebiasaan yang turun-temurun ataupun perbuatan serta kebiasaan yang baru saja timbul, seperti tersinggungnya perasaan orang-orang musyrik apabila ada orang-orang yang memaki berhala-berhala mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran untuk menilai perbuatan atau kebiasaan itu baik atau buruk, adalah termasuk persoalan yang ikhtiyari. Hanya saja di samping itu Allah telah memberikan naluri pada diri manusia untuk menilai perbuatan dan kebiasaan itu, apakah perbuatan dan kebiasaan itu termasuk baik ataukah buruk. Sedangkan tugas-tugas Rasul adalah penyampaikan wahyu yang membimbing dan mengarahkan naluri untuk berkembang sebagaimana mestinya ke jalan yang benar agar mereka dapat menilai perbuatan serta kebiasaan itu dengan penilaian yang benar.

Pada akhir ayat ini Allah memberikan penjelasan bahwa manusia keseluruhannya akan kembali kepada Allah setelah mereka mati, yaitu pada hari kebangkitan; karena Dialah Tuhan yang sebenarnya dan Dia akan memberitakan seluruh perbuatan yang mereka lakukan di dunia, dan akan memberikan balasan yang setimpal.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Word by word

وَلَا

walā

And (do) not

تَسُبُّواْ

tasubbū

insult

ٱلَّذِينَ

alladhīna

those whom

يَدۡعُونَ

yadʿūna

they invoke

مِن

min

from

دُونِ

dūni

other than

ٱللَّهِ

l-lahi

Allah

فَيَسُبُّواْ

fayasubbū

lest they insult

ٱللَّهَ

l-laha

Allah

عَدۡوَۢا

ʿadwan

(in) enmity

بِغَيۡرِ

bighayri

without

عِلۡمٖۗ

ʿil'min

knowledge

كَذَٰلِكَ

kadhālika

Thus

زَيَّنَّا

zayyannā

We have made fair-seeming

لِكُلِّ

likulli

to every

أُمَّةٍ

ummatin

community

عَمَلَهُمۡ

ʿamalahum

their deed

ثُمَّ

thumma

Then

إِلَىٰ

ilā

to

رَبِّهِم

rabbihim

their Lord

مَّرۡجِعُهُمۡ

marjiʿuhum

(is) their return

فَيُنَبِّئُهُم

fayunabbi-uhum

then He will inform them

بِمَا

bimā

about what

كَانُواْ

kānū

they used to

يَعۡمَلُونَ

yaʿmalūna

do