Surah 31 · 31:14

Surah Luqman 31:14

Luqman · Luqman

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٲلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Wawassayna al-insanabiwalidayhi hamalat-hu ommuhu wahnan AAalawahnin wafisaluhu fee AAamayni ani oshkur lee waliwalidaykailayya almaseer

And We have enjoined upon man [care] for his parents. His mother carried him, [increasing her] in weakness upon weakness, and his weaning is in two years. Be grateful to Me and to your parents; to Me is the [final] destination.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

SurahLuqman
Juz21
Halaman412
Turun dimakkah

Tafsir

Ibn Kathir (Abridged)

Luqman's Advice to His Son

Allah tells us how Luqman advised his son. His full name was Luqman bin `Anqa' bin Sadun, and his son's name was Tharan, according to a saying quoted by As-Suhayli. Allah describes him in the best terms, and states that he granted him wisdom. Luqman advised his son, the closest and most beloved of all people to him, who deserved to be given the best of his knowledge. So, Luqman started by advising him to worship Allah Alone, and not to associate anything with Him. Then he warned him:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

(Verily, joining others in worship with Allah is a great Zulm (wrong) indeed.) meaning, it is the greatest wrong. Al-Bukhari recorded that `Abdullah said: "When the Ayah

الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَـنَهُمْ بِظُلْمٍ

(It is those who believe and confuse not their belief with Zulm)(6:82) was revealed, the Companions of the Messenger of Allah ﷺ were distressed by this, and said, `Who among us does not confuse his belief with Zulm' The Messenger of Allah ﷺ said:

«إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ، أَلَا تَسْمَعُ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ:

يَبُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ»

(That is not what it means. Have you not heard what Luqman said: (O my son! Join not in worship others with Allah. Verily, joining others in worship with Allah is a great Zulm (wrong) indeed))" It was recorded by Muslim. When Luqman advised his son to worship Allah Alone, he also told him to honor his parents. This is like the Ayah,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّـهُ وَبِالْوَلِدَيْنِ إِحْسَـناً

(And your Lord has decreed that you worship none but Him. And that you be dutiful to your parents) (17:23). These two things are often mentioned together in the Qur'an. Allah says here:

وَوَصَّيْنَا الإِنْسَـنَ بِوَلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ

(And We have enjoined on man (to be dutiful and good) to his parents. His mother bore him in weakness and hardship upon weakness and hardship,) Mujahid said: "The hardship of bearing the child." Qatadah said: "Exhaustion upon exhaustion." `Ata' Al-Khurasani said: "Weakness upon weakness."

وَفِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ

(and his weaning is in two years) means, after he is born, he is breastfed and weaned within two years. This is like the Ayah,

وَالْوَلِدَتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَـدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

(The mothers shall give suck to their children for two whole years, for those who desire to complete the term of suckling)(2:233). On this basis, Ibn `Abbas and other Imams understood that the shortest possible period of pregnancy was six months, because Allah says elsewhere:

وَحَمْلُهُ وَفِصَـلُهُ ثَلاَثُونَ شَهْراً

(and the bearing of him, and the weaning of him is thirty months) (46:15). Allah mentions how the mother brings the child up, and how she gets tired and suffers stress from staying up with the child night and day, to remind the son of her previous kind treatment of him. This is like the Ayah,

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

(and say: "My Lord! Bestow on them Your mercy as they did bring me up when I was young.") (17:24). Allah says here:

أَنِ اشْكُرْ لِى وَلِوَلِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ

(give thanks to Me and to your parents. Unto Me is the final destination.) means, `I will reward you most generously for that.'

وَإِن جَـهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا

(But if they strive with you to make you join in worship with Me others that of which you have no knowledge, then obey them not;) means, if they try hard to make you follow them in their religion, then do not accept that from them, but do not let that stop you from behaving with them in the world kindly, i.e. treating them with respect.

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ

(and follow the path of him who turns to Me in repentance and in obedience.) means, the believers.

ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

(Then to Me will be your return, and I shall tell you what you used to do.) At-Tabarani recorded in Al-`Ishrah that Sa`d bin Malik said, "This Ayah,

وَإِن جَـهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا

(But if they strive with you to make you join in worship with Me others that of which you have no knowledge, then obey them not;) was revealed concerning me. I was a man who honored his mother, but when I became Muslim, she said: `O Sa`d! What is this new thing I see you doing Leave this religion of yours, or I will not eat or drink until I die, and people will say: Shame on you, for what you have done to me, and they will say that you have killed your mother.' I said, `Do not do that, O mother, for I will not give up this religion of mine for anything.' She stayed without eating for one day and one night, and she became exhausted; then she stayed for another day and night without eating, and she became utterly exhausted. When I saw that, I said: `O my mother, by Allah, even if you had one hundred souls and they were to depart one by one, I would not give up this religion of mine for anything, so if you want to, eat, and if you want to, do not eat.' So she ate."

Tafsir Kemenag RI

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya dan mewujudkan keinginannya. Pada ayat-ayat lain, Allah juga memerintahkan yang demikian, firman-Nya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. (al-Isra'/17: 23)

Hal-hal yang menyebabkan seorang anak diperintahkan berbuat baik kepada ibu adalah:

1. Ibu mengandung seorang anak sampai ia dilahirkan. Selama masa mengandung itu, ibu menahan dengan sabar penderitaan yang cukup berat, mulai pada bulan-bulan pertama, kemudian kandungan itu semakin lama semakin berat, dan ibu semakin lemah, sampai ia melahirkan. Kekuatannya baru pulih setelah habis masa nifas.

2. Ibu menyusui anaknya sampai usia dua tahun. Banyak penderitaan dan kesukaran yang dialami ibu dalam masa menyusukan anaknya. Hanya Allah yang mengetahui segala penderitaan itu.

Dalam ayat ini yang disebutkan hanya alasan mengapa seorang anak harus taat dan berbuat baik kepada ibunya, tidak disebutkan apa sebabnya seorang anak harus taat dan berbuat baik kepada bapaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kesukaran dan penderitaan ibu dalam mengandung, memelihara, dan mendidik anaknya jauh lebih berat bila dibandingkan dengan penderitaan yang dialami bapak dalam memelihara anaknya. Penderitaan itu tidak hanya berupa pengorbanan sebagian dari waktu hidupnya untuk memelihara anaknya, tetapi juga penderitaan jasmani dan rohani. Seorang ibu juga menyediakan zat-zat penting dalam tubuhnya untuk makanan anaknya selama anaknya masih berupa janin di dalam kandungan.

Sesudah lahir ke dunia, sang anak itu lalu disusukannya dalam masa dua tahun (yang utama). Air susu ibu (ASI) juga terdiri dari zat-zat penting dalam darah ibu, yang disuguhkan dengan kasih sayang untuk dihisap oleh anaknya. Dalam ASI ini terdapat segala macam zat yang diperlukan untuk pertumbuhan jasmani dan rohani anak, dan untuk mencegah segala macam penyakit. Zat-zat ini tidak terdapat pada susu sapi. Oleh sebab itu, susu sapi dan yang sejenisnya tidak akan sama mutunya dengan ASI. Segala macam susu bubuk atau susu kaleng tidak ada yang sama mutunya dengan ASI.

Seorang ibu sangat dihimbau untuk menyusui anaknya dengan ASI. Janganlah ia menggantinya dengan susu bubuk, kecuali dalam situasi yang sangat memaksa. Mendapatkan ASI dari ibunya adalah hak anak, dan menyusukan anak adalah suatu kewajiban yang telah dibebankan Allah kepada ibunya.

Dalam ayat ini, Allah hanya menyebutkan sebab-sebab manusia harus taat dan berbuat baik kepada ibunya. Nabi saw sendiri memerintahkan agar seorang anak lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibunya daripada kepada bapaknya, sebagaimana diterangkan dalam hadis:

Dari Bahz bin hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, "Aku bertanya ya Rasulullah, kepada siapakah aku wajib berbakti?" Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Aku bertanya, "Kemudian kepada siapa?" Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Aku bertanya, "Kemudian kepada siapa lagi?" Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Aku bertanya, "Kemudian kepada siapa lagi?" Rasulullah menjawab, "Kepada bapakmu. Kemudian kepada kerabat yang lebih dekat, kemudian kerabat yang lebih dekat." (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Adapun tentang lamanya menyusukan anak, Al-Qur'an memerintahkan agar seorang ibu menyusukan anaknya paling lama dua tahun, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat ini, dengan firman-Nya, "dan menyapihnya dalam masa dua tahun." Dalam ayat lain, Allah menentukan masa untuk menyusukan anak itu selama dua tahun. Allah berfirman:

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. (al-Baqarah/2: 233)

Firman-Nya lagi:

Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan. (al-Ahqaf/46: 15)

Pengertian ayat di atas adalah waktu yang dibutuhkan seorang ibu mengandung anaknya minimal enam bulan, dan masa menyusui dua puluh empat bulan atau dua tahun. Jika keduanya dijumlahkan akan ketemu bilangan 30 bulan.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa seorang ibu hendaknya menyusui anaknya dalam masa dua tahun. Pada ayat 233 surah al-Baqarah diterangkan bahwa masa menyusui dua tahun itu adalah bagi seorang ibu yang hendak menyusukan anaknya dengan sempurna. Maksudnya, bila ada sesuatu halangan, atau masa dua tahun itu dirasakan amat berat, maka boleh dikurangi.

Masa menyusui dua tahun mengandung hikmah lainnya, yaitu untuk menjarangkan kelahiran. Dengan menjalankan pengaturan yang alami ini, seorang ibu hanya akan melahirkan paling cepat sekali dalam masa tiga tahun, atau kurang sedikit. Sebab dalam masa menyusui, seorang perempuan pada umumnya sukar untuk hamil kembali.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa maksud dari "berbuat baik" dalam ayat ini adalah agar manusia selalu bersyukur setiap menerima nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan bersyukur pula kepada ibu bapak karena keduanya yang membesarkan, memelihara, dan mendidik serta bertanggung jawab atas diri mereka, sejak dalam kandungan sampai mereka dewasa dan sanggup berdiri sendiri. Masa membesarkan anak merupakan masa sulit karena ibu bapak menanggung segala macam kesusahan dan penderitaan, baik dalam menjaga maupun dalam usaha mencarikan nafkah anaknya.

Ibu-bapak dalam ayat ini disebut secara umum, tidak dibedakan antara ibu bapak yang muslim dengan yang kafir. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa anak wajib berbuat baik kepada ibu bapaknya, apakah ibu bapaknya itu muslim atau kafir.

Di samping apa yang disebutkan di atas, masih ada beberapa hal yang mengharuskan anak menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapak, antara lain:

1. Ibu dan bapak telah mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Cinta dan kasih sayang itu terwujud dalam berbagai bentuk, di antaranya ialah membesarkan, mendidik, menjaga, dan memenuhi keinginan-keinginan anaknya. Usaha-usaha yang tidak mengikat itu dilakukan tanpa mengharapkan balasan apa pun dari anak-anaknya, kecuali agar mereka di kemudian hari menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.

2. Anak adalah buah hati dan jantung dari ibu bapaknya, seperti yang disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah bersabda, "Fatimah adalah buah hatiku."

3. Sejak dalam kandungan, lalu dilahirkan ke dunia hingga dewasa, kebutuhan makan, minum, pakaian, dan keperluan lain anak-anak ditanggung oleh ibu bapaknya.

Dengan perkataan lain dapat diungkapkan bahwa nikmat yang paling besar yang diterima oleh seorang manusia adalah nikmat dari Allah, kemudian nikmat yang diterima dari ibu bapaknya. Itulah sebabnya, Allah meletakkan kewajiban berbuat baik kepada kedua ibu bapak, sesudah kewajiban beribadah kepada-Nya.

Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan bahwa manusia akan kembali kepada-Nya, bukan kepada orang lain. Pada saat itu, Dia akan memberikan pembalasan yang adil kepada hamba-hamba-Nya. Perbuatan baik akan dibalas pahala yang berlipat ganda berupa surga, sedangkan perbuatan jahat akan dibalas dengan azab neraka.

Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.

Kata per kata

وَوَصَّيۡنَا

wawaṣṣaynā

And We have enjoined

ٱلۡإِنسَٰنَ

l-insāna

(upon) man

بِوَٰلِدَيۡهِ

biwālidayhi

for his parents

حَمَلَتۡهُ

ḥamalathu

carried him

أُمُّهُۥ

ummuhu

his mother

وَهۡنًا

wahnan

(in) weakness

عَلَىٰ

ʿalā

upon

وَهۡنٖ

wahnin

weakness

وَفِصَٰلُهُۥ

wafiṣāluhu

and his weaning

فِي

(is) in

عَامَيۡنِ

ʿāmayni

two years

أَنِ

ani

that

ٱشۡكُرۡ

ush'kur

Be grateful

لِي

to Me

وَلِوَٰلِدَيۡكَ

waliwālidayka

and to your parents

إِلَيَّ

ilayya

towards Me

ٱلۡمَصِيرُ

l-maṣīru

(is) the destination