Surah 41 · 41:49
Surah Fussilat 41:49
Fussilat · Explained in Detail
لَّا يَسْــَٔمُ
La yas-amu al-insanu min duAAa-ialkhayri wa-in massahu ashsharru fayaoosun qanoot
Man is not weary of supplication for good [things], but if evil touches him, he is hopeless and despairing.
Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika ditimpa malapetaka, mereka berputus asa dan hilang harapannya.
Tafsir
Ibn Kathir (Abridged)
Man is fickle when Ease comes to Him after Difficulty
Allah tells us that man never gets bored of asking his Lord for good things, such as wealth, physical health, etc., but if evil touches him -- i.e., trials and difficulties or poverty --
فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ(then he gives up all hope and is lost in despair.), i.e., he thinks that he will never experience anything good again.
وَلَئِنْ أَذَقْنَـهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّآءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَـذَا لِى(And truly, if We give him a taste of mercy from Us, after some adversity has touched him, he is sure to say: "This is due to my (merit)...") means, if something good happens to him or some provision comes to him after a period of difficulty, he says, `this is because of me, because I deserve this from my Lord.'
وَمَآ أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً(I think not that the Hour will be established.) means, he does not believe that the Hour will come. So when he is given some blessing, he becomes careless, arrogant and ungrateful, as Allah says:
كَلاَّ إِنَّ الإِنسَـنَ لَيَطْغَى - أَن رَّءَاهُ اسْتَغْنَى(Nay! Verily, man does transgress. Because he considers himself self-sufficient.) (96:6)
وَلَئِن رُّجِّعْتُ إِلَى رَبِّى إِنَّ لِى عِندَهُ لَلْحُسْنَى(But if I am brought back to my Lord, surely there will be for me the best with Him.) means, `if there is a Hereafter after all, then my Lord will be generous and kind to me just as He was in this world.' So he expects Allah to do him favors in spite of his bad deeds and lack of certain faith. Allah says:
فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِمَا عَمِلُواْ وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِّنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ(Then, We verily will show to the disbelievers what they have done, and We shall make them taste a severe torment.) Thus Allah threatens punishment and vengeance to those whose conduct and belief is like that.
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى الإنْسَـنِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ(And when We show favor to man, he turns away and becomes arrogant;) means, he turns away from doing acts of obedience and is too proud to obey the commands of Allah. This is like the Ayah:
فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ(But Fir`awn turned away along with his hosts) (51:39).
وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ(but when evil touches him,) means, difficulties,
فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ(then he has recourse to long supplications.) means, he asks at length for one thing. Long supplications are those which are long on words and short on meaning. The opposite is concise speech which is brief but full of meaning. And Allah says:
وَإِذَا مَسَّ الإِنسَـنَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَآئِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَآ إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ(And when harm touches man, he invokes Us, lying on his side, or sitting or standing. But when We have removed his harm from him, he passes on as if he had never invoked Us for a harm that touched him!) (10:12)
Tafsir Kemenag RI
Ayat ini menerangkan keinginan-keinginan manusia untuk mencapai hal-hal yang menyangkut kepentingan dirinya. Sebagian besar manusia adalah orang-orang yang tamak, suka mencari harta dan mencari kesenangan untuk dirinya sendiri.
Mereka menginginkan harta dan kekuasaan, karena menurut mereka dengan harta dan kekuasaan itu semua cita-cita dan keinginannya akan tercapai. Mereka ingin keturunan, karena dengan keturunan itu mereka dapat mewariskan semua harta yang mereka peroleh dan akan selalu ada orang yang mengenang jasa dan keberhasilan mereka selama hidup di dunia. Mereka ingin memperoleh harta benda dunia sebanyak-banyaknya, karena itu mereka berlomba-lomba mencapainya, seakan-akan hidup dan kehidupan mereka dihabiskan untuk itu.
Dalam ayat ini, yang selalu diinginkan dan dicari manusia itu disebut "khair" (kebaikan). Disebut "khair" karena yang diinginkan manusia itu adalah kebaikan yang merupakan rahmat dan karunia Allah. Rahmat dan karunia Allah itu mereka jadikan tujuan yang harus dicapai dalam hidup dan kehidupan mereka di dunia ini, bukan sebagai alat atau jalan yang dapat mereka pergunakan untuk mencapai sesuatu yang lebih mulia dan lebih tinggi nilainya, sehingga rahmat dan karunia Allah yang semula adalah baik, mereka jadikan sumber bencana dan malapetaka karena hawa nafsu mereka yang dapat menimpa diri mereka sendiri atau orang lain.
Yang dimaksud dengan "mencari kebaikan" dalam ayat ini ialah menginginkan, berusaha, mencari, menuntut dan menjadikan kebaikan itu sebagai alat dan jalan mencapai tujuan hidup di dunia dan akhirat, bukan untuk mencari kebaikan agar kebaikan itu dapat dijadikan alat dan jalan mencapai tujuan yang diinginkan hawa nafsu. Mencari kebaikan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu dapat menimbulkan malapetaka bagi yang mencarinya. Tetapi, jika mencari kebaikan itu tujuannya agar kebaikan itu dapat dijadikan alat dan jalan untuk mencari keridaan Allah, maka mencari kebaikan yang demikian dianjurkan oleh agama Islam.
Misalnya, seseorang berusaha mencari harta yang halal agar dengan harta itu ia dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah, seperti memberi nafkah keluarganya, berinfak di jalan Allah, menolong fakir miskin, dan sebagainya. Demikian pula, orang yang ingin mencari pangkat dan kekuasaan, ia boleh mencarinya dengan maksud menegakkan keadilan, menegakkan hukum-hukum Allah, dan menolong orang-orang yang sengsara. Usaha yang demikian adalah usaha yang terpuji dan diridai Allah.
Jadi, mencari kebaikan itu pada hakikatnya baik jika kebaikan yang diperoleh itu dijadikan alat dan jalan untuk mencari keridaan Allah. Tetapi, mencari kebaikan itu akan merusak dirinya jika kebaikan itu digunakan untuk memenuhi hawa nafsusnya.
Sifat manusia yang lain ialah jika kebaikan yang dicarinya itu tidak diperolehnya atau mereka ditimpa suatu musibah, maka mereka menjadi putus asa, seakan-akan tidak ada harapan lagi bagi mereka, tidak ada lagi bumi tempat berpijak dan tidak ada lagi langit tempat berteduh, semua yang mereka inginkan itu seakan-akan sirna. Dalam keadaan yang demikian, mereka menjadi berputus asa dari rahmat Allah dan berprasangka buruk terhadap Allah seakan-akan Allah tidak mempunyai sifat kasih sayang dan bukan Maha Pemberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya.
Sifat-sifat yang diterangkan oleh ayat ini adalah sifat-sifat orang yang tidak beriman dan tidak memurnikan ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah. Mereka masih percaya kepada adanya kekuatan-kekuatan lain yang dapat menolong mereka selain dari kekuatan Allah. Seakan-akan mereka tidak percaya akan adanya rahmat dan karunia-Nya dan tidak percaya adanya kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan akhirat nanti.
Ada pun orang-orang yang beriman kepada Allah, adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada-Nya, merasakan keagungan dan kebesaran-Nya dan merasa dirinya bergantung kepada rahmat dan karunia-Nya. Mereka percaya akan adanya kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan di akhirat, dan mereka percaya bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara. Karenanya mereka berusaha dan bekerja semata-mata untuk mencari keridaan-Nya. Mereka juga percaya bahwa Allah selain menguji hamba-hamba-Nya yang beriman dan ujian itu selalu diberikan dalam bermacam-macam bentuk, ada yang berupa kesengsaraan dan penderitaan, dan ada pula yang berbentuk kesenangan dan kekayaan. Apa pun wujud ujian dan cobaan itu, dihadapinya dengan sabar dan tawakal. Jika mereka memperoleh kebaikan dan harta, ia bergembira dan bersyukur kepada-Nya dan jika ditimpa musibah, mereka tetap sabar dan tabah, bahkan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka tetap mengharapkan rahmat dan karunia Allah karena benar-benar yakin akan sifat kasih sayang Allah yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada setiap hamba yang beriman kepada-Nya. Allah swt berfirman:
Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." (Yusuf/12: 87)
Tafsir is bundled locally for static rendering. Verify redistribution rights for Ibn Kathir and Tafsir Kemenag before production release.
Kata per kata
لَّا
lā
(Does) not
يَسۡـَٔمُ
yasamu
get tired
ٱلۡإِنسَٰنُ
l-insānu
man
مِن
min
of
دُعَآءِ
duʿāi
praying
ٱلۡخَيۡرِ
l-khayri
(for) the good
وَإِن
wa-in
but if
مَّسَّهُ
massahu
touches him
ٱلشَّرُّ
l-sharu
the evil
فَيَـُٔوسٞ
fayaūsun
then he gives up hope
قَنُوطٞ
qanūṭun
(and) despairs